Menjaga Habitat Gorila di Bwindi: Upaya Komunitas yang Menginspirasi
Bagi para konservasionis yang bekerja di sekitar Taman Nasional Bwindi Impenetrable, menjaga gorila gunung bukan sekadar tentang apa yang terjadi di dalam hutan. Semakin hari, perjuangan untuk melindungi spesies ini meluas hingga ke lahan komunitas di luar batas taman, satu bibit sekaligus.
Bwindi adalah destinasi paling populer untuk tur gorila, menawarkan petualangan unik ke jantung Afrika untuk melihat gorila gunung. Saat ini, hanya tersisa sekitar 1060 gorila gunung di seluruh dunia, dan hampir setengah dari jumlah itu hidup di Bwindi.
Menjelang Hari Gorila Sedunia pada 24 September, berbagai organisasi masyarakat dan kelompok konservasi meningkatkan kegiatan penanaman pohon yang bertujuan untuk memperkuat habitat hutan yang sangat bergantung pada gorila. Baru-baru ini, di Sekolah Bibit Ruhija, para siswa menanam spesies asli, termasuk Croton, dalam acara yang diorganisir oleh Change a Life Bwindi bersama Uganda Wildlife Authority (UWA) dan mitra lainnya.
Joseph Muhindo, seorang Asisten Petugas Pariwisata dan Perhotelan untuk Kawasan Konservasi Bwindi Impenetrable, menjelaskan latar belakang gerakan ini. Banyak spesies pohon asli yang tumbuh di dalam Bwindi juga dapat berkembang dengan baik di lahan komunitas di sekitarnya. Dengan menanamnya di sana, sabuk hutan yang efektif dapat diperluas ke area yang telah terdegradasi seiring waktu.
Hal ini penting karena rumah tangga di dekat taman sering kali mengandalkan pohon untuk bahan konstruksi, obat-obatan, dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, hal itu bisa memaksa orang untuk memasuki taman demi mencari sumber daya.
Dengan memberikan komunitas stok produk pohon yang bisa mereka ambil, Muhindo menyebut bahwa inisiatif ini mengurangi tekanan terhadap hutan yang dilindungi, sekaligus meningkatkan ketahanan iklim. Vegetasi yang dipulihkan membantu menstabilkan pola hujan yang dibutuhkan oleh taman dan pertanian di sekitarnya.
Dia menjelaskan bahwa ini adalah konservasi dengan tujuan ganda: melindungi habitat gorila sekaligus melayani masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Melibatkan Generasi Muda Sejak Dini
Bagi Change a Life Bwindi, keberlanjutan dimulai dari sekolah-sekolah. Pendiri, Tina Katushabe, menyatakan bahwa organisasi ini bekerja di berbagai kelompok pemuda, wanita, dan komunitas Batwa di desa-desa yang berbatasan dengan taman. Mengedukasi siswa tentang konservasi adalah bagian dari strategi yang disengaja. Siswa yang tumbuh dengan berpartisipasi dalam penanaman pohon lebih mungkin memahami pentingnya menjaga hutan, keanekaragaman hayati, dan satwa liar ketika mereka meninggalkan sekolah.
Katushabe juga menghubungkan kegiatan penanaman pohon dengan mata pencaharian, bukan hanya ekologi: hutan yang sehat dapat mendukung usaha ekowisata kecil dan lainnya, memberi alasan ekonomi bagi penduduk untuk menjaga hutan tetap ada.
Sejauh ini, Change a Life Bwindi telah menanam 56 spesies pohon asli di hutan seluas 85 hektar, didukung oleh mitra universitas dan komunitas.
Tentu saja, program ini tidak tanpa rintangan. Keterbatasan lahan membatasi seberapa jauh inisiatif ini bisa berkembang, sementara curah hujan yang semakin tidak menentu mempengaruhi jadwal penanaman pohon dan pertanian lokal, membuat perencanaan menjadi lebih sulit.
Di Sekolah Bibit Ruhija, guru Mbabazi Celestine menyambut baik inisiatif ini karena alasan praktis: menyediakan naungan, menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik, dan memberikan kontribusi kecil namun nyata untuk mengurangi kerusakan lingkungan di sekitar.
Muhindo menempatkan dorongan penanaman pohon ini dalam kerangka yang lebih luas, di mana melindungi gorila berarti berpikir di luar batas taman itu sendiri.
Dia juga mengingatkan tentang hal yang mudah dilupakan: gorila gunung memiliki hubungan genetik dekat dengan manusia, sehingga pengendalian penyakit dan interaksi yang hati-hati antara manusia, ternak, dan gorila menjadi perhatian serius dalam konservasi sendiri.
Lebih dari sekadar ekologi, dia mencatat bahwa konservasi gorila memiliki dampak ekonomi yang nyata bagi daerah tersebut, termasuk menghasilkan pendapatan pariwisata, lapangan pekerjaan, dan mendorong pembangunan masyarakat.
Menjelang Hari Gorila Sedunia, pesan yang muncul dari Bwindi sangat jelas: melindungi gorila dimulai dengan menjaga habitat di sekelilingnya. Tanggung jawab ini sekarang meluas ke sekolah-sekolah dan desa-desa orang-orang yang hidup berdampingan dengan gorila.
Apa yang Membuat Bwindi Berbeda?
Hanya sedikit tempat di bumi yang menawarkan apa yang dimiliki oleh Bwindi. Ini adalah salah satu dari sedikit lokasi di dunia, bersama dengan Taman Nasional Mgahinga di Uganda, Taman Nasional Volcanoes di Rwanda, dan Taman Nasional Virunga di Republik Demokratik Kongo. Bwindi adalah destinasi paling populer yang menarik wisatawan sepanjang tahun untuk berpetualang melalui hutan montane yang lebat guna melihat gorila gunung yang terancam punah. Trekking di Bwindi dilakukan setiap hari dan kegiatan ini sangat diatur.
Bwindi sendiri adalah rumah bagi sekitar setengah dari gorila gunung yang tersisa di dunia, terkurung dalam hutan yang begitu tua dan rumit sehingga namanya “hutan yang tidak dapat ditembus” bahkan bisa dibilang tidak berlebihan.
Trekking gorila di sini adalah pengalaman fisik sekaligus interaksi dengan satwa liar. Jalur melintasi medan berbukit yang berkabut tebal dengan pakis, liana, dan kayu keras yang berusia ratusan tahun, dan untuk mencapai keluarga gorila bisa memakan waktu dari 30 menit hingga beberapa jam tergantung di mana kelompok tersebut berpindah.
Ketidakpastian ini adalah salah satu daya tariknya. Tidak ada dua trek yang sama, dan hasil akhirnya, menonton pergerakan silverback yang tenang di semak-semak hanya beberapa meter jauhnya, adalah sesuatu yang tak tertandingi di tempat lain.
Kisah manusia di sekitar Bwindi juga sama uniknya. Di tepi hutan terdapat komunitas Bakiga dan Batwa, yang terakhir sering digambarkan sebagai masyarakat perintis yang tinggal di hutan, dipindahkan ketika Bwindi ditetapkan sebagai kawasan lindung pada tahun 1991.
Saat ini, interaksi budaya yang dibangun di sekitar warisan Batwa—tarian tradisional, bercerita, dan berjalan dengan pemandu yang merupakan mantan penghuni hutan—memberikan pengunjung pandangan langka tentang cara hidup yang sudah ada jauh sebelum taman ini didirikan.
Dikombinasikan dengan koperasi kerajinan yang dikelola komunitas, kunjungan ke rumah penduduk, dan asosiasi porter yang mempekerjakan ratusan penduduk lokal saat trekking, kunjungan ke Bwindi menjadi tentang orang-orang dan budaya, bukan hanya tentang gorila. Itulah sebabnya upaya konservasi di sini dibangun dengan memperhatikan manfaat masyarakat, bukan hanya perlindungan satwa liar semata.

