Sebagian besar penumpang maskapai tidak sadar bahwa mereka berinteraksi dengan sebuah aliansi sebelum menyadari keberadaannya. Misalnya, akses ke lounge setelah penerbangan panjang yang melelahkan, miles penerbangan yang diperoleh dari maskapai yang belum pernah mereka coba, atau kemampuan untuk check-in bagasi di London dan mengambilnya di Sydney meski terbang dengan beberapa maskapai berbeda. Semua pengalaman ini sekarang terasa biasa, tetapi pada akhir 1990-an, ini adalah salah satu eksperimen terambisius dalam industri penerbangan.
Munculnya Star Alliance, Oneworld, dan SkyTeam benar-benar mengubah bagaimana maskapai bersaing. Bersama-sama, ketiga aliansi ini kini mengangkut lebih dari 1,8 miliar penumpang setiap tahun, menghasilkan pendapatan mendekati US$700 miliar, dan menghubungkan hampir setiap pasar penerbangan signifikan di dunia. Dari segi skala, mereka termasuk organisasi komersial paling berpengaruh yang pernah ada di sektor pariwisata.
Tapi nyatanya, semua ini tidak dimulai sebagai program pemasaran. Mereka lahir dari sebuah masalah struktural. Di tengah percepatan globalisasi di tahun 1990-an, maskapai terjebak antara dua realitas yang berlawanan. Pelanggan mereka semakin bergerak secara internasional, sementara maskapai sendiri terikat oleh aturan kepemilikan nasional dan kesepakatan layanan udara bilateral. Membangun merger antar-negara menjadi sangat sulit.
Solusinya bukan melalui konsolidasi, melainkan melalui kerja sama.
Bab Pertama: Star Alliance Menciptakan Kategori Baru
Pada 14 Mei 1997, para eksekutif dari United Airlines, Lufthansa, Air Canada, SAS, dan Thai Airways berkumpul di Frankfurt. Mereka bukan hanya mengumumkan kemitraan, tetapi mencoba menciptakan kategori bisnis baru. Jürgen Weber, CEO Lufthansa, dan Gerald Greenwald, CEO United Airlines, menyadari bahwa maskapai perlu menemukan cara beroperasi secara global tanpa harus menjadi perusahaan global.
“Ini adalah langkah bersejarah dalam penerbangan komersial,” kata Weber saat peluncuran. Saat itu, pernyataan ini terasa berani.
Industri penerbangan telah berkompetisi selama beberapa dekade melalui jaringan rute, pesanan pesawat, dan prestise nasional. Kerja sama umumnya terbatas pada kesepakatan bilateral dan pengaturan kode-share yang sederhana. Ide bahwa lima maskapai independen bisa memasarkan diri sebagai satu jaringan bisnis terasa sangat ambisius.
Tidak semua orang yakin dengan ide ini. Beberapa analis meragukan apakah maskapai dengan budaya, struktur tenaga kerja, dan prioritas komersial yang berbeda bisa bekerja sama secara efektif. Namun, pembeli perjalanan korporat dengan cepat memahami nilai tawaran ini. Perusahaan multinasional menginginkan lebih sedikit hubungan pemasok, cakupan lebih luas, dan layanan yang lebih konsisten. Star Alliance menawarkan semua itu.
Star Alliance mengubah ekonomi penerbangan dengan menciptakan yang bisa dibilang sebagai maskapai global virtual. Penumpang bisa memesan melalui satu maskapai, mendapatkan miles di berbagai maskapai, mengakses lounge di seluruh dunia, dan menikmati jadwal yang telah terkoordinasi tanpa perlu memahami kerumitan di balik layar.
Aliansi ini berkembang pesat. Maskapai dari Eropa, Asia, Afrika, dan Amerika Latin berlomba-lomba untuk bergabung. Setiap anggota baru semakin meningkatkan nilai aliansi bagi anggota yang sudah ada. Kini, Star Alliance menjadi aliansi maskapai terbesar di dunia dengan 25 anggota, lebih dari 5.000 pesawat, sekitar 760 juta penumpang per tahun, dan lebih dari 18.000 penerbangan harian dengan pendapatan gabungan diperkirakan mencapai US$230-250 miliar.
Yang bikin Star Alliance luar biasa bukan hanya skala, tetapi juga pengaruhnya. Ia menetapkan template yang diikuti oleh setiap pesaing besar. Sebelum Star Alliance, tidak ada kategori yang diakui sebagai aliansi maskapai global. Setelahnya, setiap maskapai besar harus memiliki strategi aliansi.
Bab Kedua: Oneworld Melawan Balik
Sukses Star Alliance menciptakan realitas yang tidak nyaman bagi semua yang berada di luar jaringan itu. Aliansi ini menarik kontrak korporat, meningkatkan loyalitas pelanggan, dan memperluas jangkauan global. Maskapai yang sebelumnya merasa sebagai pesaing kini harus bersaing dengan ekosistem yang lebih besar.
British Airways dan American Airlines tidak bisa menunggu lebih lama untuk bertindak. Pada September 1998, mereka mengumumkan rencana untuk membentuk Oneworld. Aliansi ini resmi diluncurkan pada Februari 1999 dan langsung menjadi alternatif yang kredibel untuk dominasi Star Alliance.
Figur di balik peluncuran ini sangat kuat. Robert Ayling, CEO British Airways, dan Donald Carty, CEO American Airlines, memahami pentingnya strategi ini. Maskapai mereka sudah menduduki posisi dominan di beberapa pasar penerbangan yang paling bernilai di dunia. Koridor transatlantik menghasilkan keuntungan luar biasa. Mungkin tidak ada pilihan lain selain menghentikan dominasi Star Alliance dalam lanskap aliansi yang berkembang.
Oneworld tidak berusaha memenangkan pasar hanya dengan skala. Mereka membangun pengaruh melalui koleksi merek premium yang nilai gabungannya melebihi angka-angka mereka. Oneworld terfokus pada pelancong bisnis dan rute jarak jauh yang menguntungkan.
Seiring berjalannya waktu, Oneworld menambah anggota-anggota ternama seperti Finnair, Iberia, Japan Airlines, dan yang paling signifikan, Qatar Airways. Keberadaan Qatar memperkuat posisinya di Timur Tengah.
Saat ini Oneworld memiliki sekitar 13 anggota, sekitar 4.300 pesawat, dan menghasilkan pendapatan gabungan diperkirakan mencapai US$180-220 miliar. Beberapa koridor penerbangan paling menguntungkan ada di dalam jaringan Oneworld, seperti London-New York dan London-Hong Kong.
Bab Ketiga: SkyTeam Datang Terlambat dan Memenangkan Pertandingan
Pada musim panas 2000, pergerakan aliansi sepertinya sudah terpusat pada dua pemain utama. Star Alliance yang menjadi pelopor dan Oneworld dengan rangkaian merek premium yang mengesankan. Namun, Delta Air Lines dan Air France memiliki pandangan berbeda.
Pada 22 Juni 2000, mereka meluncurkan SkyTeam di New York. Aliansi ini muncul bukan karena ambisi, tetapi karena kebutuhan. Maskapai mulai menyadari bahwa tetap di luar sistem aliansi adalah sesuatu yang berisiko. Program loyalitas semakin penting, dan konektivitas global menjadi persyaratan kompetitif.
Inisiatif ini dipimpin oleh CEO Delta Leo Mullin dan CEO Air France Jean-Cyril Spinetta. Mereka menggambarkan SkyTeam sebagai aliansi yang fokus pada pelanggan dengan cakupan global dan layanan yang mulus. Peluncurannya kurang diantisipasi dibanding Star Alliance, karena konsep aliansi sudah terbukti dapat berhasil.
Hari ini SkyTeam memiliki sekitar 19 anggota, sekitar 4.000 pesawat, dan, diperkirakan, mengangkut antara 630-700 juta penumpang per tahun dengan pendapatan gabungan mencapai US$180-210 miliar. Keberhasilan SkyTeam menunjukkan bahwa menjadi yang pertama tidak selalu penting. Kadang-kadang, datang terlambat bisa memberi sebuah organisasi kesempatan untuk belajar dari kekuatan dan kelemahan yang telah ada.
Apakah Ini Akhirnya? Atau Apakah Bab Selanjutnya Akan Segera Ditulis?
Saat melihat kembali, aliansi maskapai tampak hampir tak terelakkan. Namun pada kenyataannya, itu semua adalah sebuah hasil dari beragam faktor. Aliansi memungkinkan maskapai menciptakan bisnis global tanpa harus mengubah diri menjadi maskapai global. Dampaknya luar biasa. Melihat bahwa gabungan Star Alliance, Oneworld, dan SkyTeam telah mengangkut lebih dari 1,8 miliar penumpang dan menghasilkan pendapatan mendekati US$700 miliar per tahun.
Tetapi, meski sukses, aliansi maskapai kini tidak lagi menjadi pusat strategi penerbangan seperti dulu. Hubungan komersial yang paling mendalam kini semakin berada di bawah merek aliansi itu sendiri. Joint ventures antara British Airways dan American Airlines, Lufthansa dan United, atau Delta dan Air France-KLM sering kali menghasilkan lebih banyak nilai daripada struktur aliansi yang lebih luas.
Di sisi lain, generasi baru kemitraan mulai muncul. Hubungan antara Riyadh Air dan Delta, kerjasama yang berkembang antara maskapai Teluk dan maskapai Barat, serta perkembangan distribusi digital yang semakin didorong oleh AI menunjukkan masa depan di mana penumpang mungkin lebih peduli pada kepraktisan perjalanan ketimbang logo aliansi yang menghiasi tiket mereka.
Ini menjadi pertanyaan penting: Apakah Star Alliance, Oneworld, dan SkyTeam adalah jawaban final untuk tantangan globalisasi di dunia penerbangan? Atau justru mereka hanyalah jawaban awal? Hampir tiga dekade setelah kelima maskapai berkumpul di Frankfurt untuk meluncurkan Star Alliance, era aliansi tetap menjadi salah satu inovasi paling sukses dalam sejarah penerbangan. Namun, kekuatan yang melahirkan aliansi ini, seperti teknologi, globalisasi, dan harapan konsumen yang terus berkembang, masih terus berubah.
Bab pertama dari aliansi maskapai tentu sudah ditulis. Apakah bab selanjutnya akan menjadi joint ventures yang lebih dalam, ekosistem perjalanan berbasis AI, kemitraan baru yang dipimpin oleh negara-negara Teluk, atau bahkan bentuk baru jaringan penerbangan global, adalah salah satu pertanyaan strategis paling menarik bagi industri saat ini.

