Shrines adalah salah satu landmark yang paling ikonik di Jepang. Banyak traveler yang terpesona menelusuri situs-situs terkenal seperti Kuil Ise, Izumo Taisha, Fushimi Inari Taisha, dan Kuil Itsukushima. Namun, selain kuil-kuil besar yang terkenal, ada juga kuil-kuil kecil yang tersebar di seluruh Jepang. Salah satu yang terkecil konon berada di Prefektur Toyama.
Kuil Kecil, Iman Besar
Begitu melihatnya sekilas, Chukyo-in Shrine (Google Maps) bisa jadi terlewatkan. Letaknya yang tersembunyi di sepanjang pinggir jalan membuatnya mudah untuk diabaikan. Kuil ini hanya berukuran sekitar 1,8 meter lebar dan 2,7 meter dalam, dengan tampilan yang cukup sederhana dan ruang masuk yang minim.
Salah seorang warga yang saya temui saat menyapu jalan di dekat situ bilang bahwa kuil kecil ini terkenal bisa menjawab doa-doa. Banyak orang datang untuk memohon kesuksesan dalam bisnis dan pendidikan. Menurutnya, kuil ini sudah “kaya” berkat sumbangan dan persembahan yang mengalir terus-menerus. Ironisnya, ketenaran kuil ini juga mengundang pencurian. Dia menceritakan satu insiden di mana seseorang menitipkan botol sake di kuil, hanya untuk ditemukan lagi botol kosongnya setelah seorang pencuri meminumnya.
Untuk melindungi persembahan tersebut, warga dan pendukung kuil akhirnya memasang kamera keamanan. Meski begitu, insiden semacam itu menunjukkan sesuatu yang lain: meskipun kecil, Chukyo-in tetap menarik perhatian banyak peziarah.
Terbentuk oleh Sejarah yang Berlanjut

Untuk memahami mengapa kuil kecil ini ada di sini, kita harus melihat sejarah panjang dan kompleksnya. Asal-usulnya dapat ditelusuri kembali ke awal tahun 1470-an. Di dekat situ, dibangun fasilitas cabang yang terhubung dengan Kuil Shokoji (sekarang menjadi Harta Nasional). Fasilitas ini digunain sebagai tempat menginap dan beristirahat bagi para peziarah dan pengikut. Orang-orang menyebutnya taya atau tsubo.
Seiring berjalannya waktu, lokasi ini mengalami banyak perubahan melalui berbagai penggunaan agama dan institusi. Sebuah batu peringatan dari kompleks yang dulu mencatat bahwa seorang tuan tanah lokal memberikan kawasan ini dengan luas yang besar selama periode Edo (1603–1868).
Setelah Restorasi Meiji, pemerintah Jepang merombak institusi keagamaan di seluruh negeri. Pada tahun 1873, didirikanlah sebuah Institut Pengajaran Menengah, Chukyo-in, di sebagian tanah tersebut. Institut ini berfungsi sebagai cabang regional dari Institut Pengajaran Agung di Tokyo. Di sini dilatih para pendeta Shinto, biksu Buddha, dan instruktur yang ditunjuk lainnya.
Sistem institusi aslinya kemudian runtuh, tetapi nama “Chukyo-in” tetap digunakan secara lokal. Fungsi keagamaan mengalami perubahan seiring waktu, dan lokasi ini mengambil peran baru. Selanjutnya, lokasi ini terhubung dengan institusi yang berafiliasi dengan Kuil Ise. Namun, identitasnya tetap ada.
Kontinuitas ini penting. Ini menjelaskan mengapa situs ini masih memiliki makna keagamaan hingga hari ini, meskipun telah melalui banyak perubahan institusi.
Dari Infrastruktur ke Hilangnya Sejarah

Kontinuitas tersebut kemudian terganggu, bukan oleh reformasi agama, tetapi oleh pengembangan kota. Pada tahun 1925, fasilitas keagamaan dan daerah penginapan yang terkait dipindahkan karena pembangunan jalur trem. Mereka dipindahkan ke lokasi dekat yang sekarang menjadi Kuil Toyama Gokoku.
