Petualangan Berburu Burung Pheasant: Emosi yang Campur Aduk
Pernahkah kamu merasakan keheningan yang tiba-tiba pecah oleh suara tembakan? Begitulah semangat saat menjalani pengalaman berburu burung pheasant bersama sekelompok teman. Di antara kami, ada seorang wanita yang jadi penembak jitu dan berhasil menjatuhkan lebih banyak burung dari yang lain. Lainnya, ada yang harus menggunakan senapan berukuran kecil karena tubuhnya yang mungil, susahnya baru mulai terasa saat dua hari pertama tanpa mendapatkan satu pun tembakan. Tapi, di pagi terakhir, dia berhasil menembak dua burung berturut-turut dengan ketepatan yang mengagumkan, membuat pemandu kami yang kebingungan hanya bisa berkata, “Nah, itu dia.”
Bagi penulis sendiri, mengingat urutan gerakan saat burung muncul terasa cukup sulit. Semua ini seharusnya bisa dilakukan dalam waktu satu setengah detik: Senapan di bahu, pengaman dibuka, lalu bidik dan tembak. Cara paling efektif yang saya lakukan adalah menyanyikan gerakan ini dalam hati seperti mantra saat kami berjalan agar tangan dan pikiran saya sinkron.
Tetapi, saat menembak pheasant pertama saya, air mata tak terduga jatuh. Saya sudah memperkirakan akan merasakan emosi, tapi tetap saja, itu mengejutkan. Ketika saya mengakui perasaan ini, Butler mengatakan bahwa yang saya rasakan adalah “rasa hormat” terhadap sesuatu yang indah dan hidup. Saya pun membawa pulang bulu-bulu indahnya yang bercahaya violet dan hijau permata serta coklat karat, berjanji akan menciptakan sesuatu yang indah dari mereka. Dan setelah itu, saya mengambil filet dada yang diajarkan Butler untuk dipisahkan dari tulang, kini sudah dipak dan dibekukan, berjanji akan membuat masakan yang sehat dan lezat.
Kembali ke rumah di Oklahoma, saya membuat semur dari daging dada dengan nasi liar dan jamur. Setiap kali berdiri di dapur, saya teringat ladang tempat pheasant saya bersembunyi. Namun, inti dari pengalaman ini bukanlah tentang membunuh.
“Saya bisa berburu seharian, tidak menarik pelatuk, dan pulang dengan perasaan puas,” kata Butler. “Rasa terhubung dengan alam dan berburu itu sendiri adalah rasa hormat juga.” Dan perasaan itu perlu saya cari dan rasakan sendiri.

