Panggilan Jamaica untuk Membangun Ketahanan Pariwisata Global
Edmund Bartlett, Menteri Pariwisata Jamaica, baru-baru ini menyerukan agar pariwisata dijadikan “inti dari pengembangan global”. Dalam pernyataannya di Forum Ekonomi Dunia yang digelar di Jenewa, Bartlett mengambil posisi kuat untuk model pariwisata 3.0 yang sedang berkembang di Jamaica, yang menekankan pentingnya menciptakan kesejahteraan, keamanan, dan ketahanan bagi masyarakat lokal, bukan hanya sekadar mengandalkan jumlah kunjungan dan pendapatan.
Dalam pidatonya, Bartlett menyampaikan visi ambisius untuk era baru pengembangan pariwisata, sekaligus mengulangi seruannya untuk dibentuknya Dana Ketahanan Pariwisata Global senilai 10 miliar dolar AS. Dana ini diharapkan bisa memberikan dukungan khusus bagi Negara-Negara Pemulihan Pulau Kecil dan ekonomi yang sangat bergantung pada pariwisata.
“Saya berbicara di sini dengan keyakinan yang lahir dari pengalaman Jamaica: pariwisata harus menjadi pusat pengembangan global,” ujar Bartlett. Ia juga menekankan hubungan erat antara perjalanan seorang wisatawan dengan banyak tenaga kerja yang terlibat di balik layar, seperti petani, pekerja, dan penggiat seni.
Bartlett menggarisbawahi tanggung jawab pengambil keputusan pariwisata dalam memastikan bahwa keberhasilan pariwisata memberi manfaat bagi semua. “Ketika pariwisata sukses, petani mendapat pembeli yang dapat diandalkan, pekerja memiliki masa depan, dan komunitas bisa memperbaiki kualitas hidup mereka,” imbuhnya.
Pariwisata sebagai Sistem Pengembangan Global
Menurut Bartlett, besarnya kontribusi pariwisata terhadap ekonomi global membuat sektor ini tidak bisa lagi dianggap sebagai pilar sekunder dalam pembicaraan pengembangan global. Merujuk pada estimasi dari World Travel & Tourism Council, ia mencatat bahwa di tahun 2025, sektor ini menyumbang 11,6 triliun dolar AS untuk ekonomi dunia dan mendukung 366 juta pekerjaan.
“Kegiatan besar seperti ini harus menjadi bagian dari diskusi kita mengenai keamanan ekonomi, sistem pangan, infrastruktur, dan masa depan pekerjaan,” tambahnya.
Namun, besarnya skala tersebut juga membawa tanggung jawab. Bartlett menegaskan bahwa pariwisata harus melindungi lingkungan dan budaya yang menjadi tumpuannya, mengurangi emisi, menggunakan sumber daya air dengan bijak, serta menjamin bahwa penduduk lokal masih dapat tinggal di area yang banyak dikunjungi wisatawan.
Pulau Kecil Hadapi Risiko Global dengan Sumber Daya Terbatas
Untuk negara-negara pulau kecil, tantangan tersebut sangat mendesak. Banyak pulau bergantung pada sedikit bandara dan pelabuhan untuk mengakses pasar internasional, sementara hotel dan usaha lainnya sering kali terletak di garis pantai yang rentan. Destinasi ini juga menghadapi risiko yang tidak dapat mereka kendalikan.
Pandemi menjadi contoh nyata kerentanan yang luar biasa, dengan kedatangan wisatawan internasional turun hingga 74 persen pada tahun 2020. Bartlett menyoroti pemulihan yang dialami Jamaica pasca-hurikan Melissa, yang menunjukkan betapa pentingnya industri ini bagi mata pencaharian banyak orang.
Transformasi Ukuran Keberhasilan dalam Pariwisata 3.0
Bartlett menegaskan bahwa perlu adanya perubahan untuk menjadikan pariwisata sebagai instrumen yang lebih kuat dalam pengembangan. Pulau-pulau kecil mungkin tidak bisa memproduksi semua barang dalam skala besar, tetapi bisa menghubungkan budaya, makanan, layanan, dan talenta mereka dengan permintaan internasional melalui pariwisata.
Prinsip penting dari strategi Pariwisata 3.0 Jamaica adalah menjadikan pariwisata lebih inklusif. Bartlet menyarankan agar ukuran keberhasilan tidak hanya terfokus pada jumlah kunjungan dan pendapatan, tetapi juga melihat dampak nyata bagi masyarakat lokal.
“Pertanyaan utama telah berubah. Kita perlu mengevaluasi seberapa banyak pengembangan yang dicapai setiap pengunjung,” tegasnya.
Pendekatan Holistik untuk Pariwisata di Jamaica
Strategi ini mengkombinasikan keamanan pekerja, pengembangan profesional, rantai pasokan lokal, hingga teknologi. Salah satu fondasinya adalah Skema Pensiun Pekerja Pariwisata, yang diharapkan memberikan keamanan jangka panjang bagi tenaga kerja di sektor ini.
Jamaica juga mengembangkan Jaringan Keterhubungan Pariwisata yang membantu bisnis lokal terhubung dengan pasar pariwisata, melakukan penjualan langsung dari petani ke hotel. Ini menunjukkan betapa signifikan pariwisata bagi kehidupan masyarakat.
Langkah berikutnya adalah inisiatif Local First, yang memfokuskan pada memberikan kesempatan lebih besar bagi masyarakat Jamaica untuk terlibat dalam penyediaan produk dan layanan untuk pariwisata.
Membangun Ketahanan sebagai Landasan
Bartlett juga mencatat pentingnya membangun ketahanan dalam pendekatan pariwisata. Pusat Ketahanan dan Manajemen Krisis Pariwisata Global di Jamaica menyediakan basis permanen untuk penelitian dan pendidikan, yang diharapkan dapat mengurangi dampak krisis di masa depan.
Sebagai bagian dari rencana ini, Bartlett menyerukan agar Forum Ekonomi Dunia memperhatikan industri pariwisata dengan lebih serius dan memberi posisi yang lebih sentral dalam agenda pengembangan global. Ia juga mengajak negara-negara lain untuk belajar dari pengalaman Jamaica dalam mengembangkan model pariwisata yang relevan secara global.
“Mari kita tempatkan pariwisata di pusat pengembangan dan martabat manusia sebagai inti dari pariwisata,” tutup Bartlett. “Keberhasilan kita tidak hanya diukur dari angka, tetapi dari dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.”
Dengan prinsip-prinsip yang jelas dan visi masa depan yang inklusif, Jamaica menunjukkan bagaimana pariwisata bisa menjadi motor penggerak pembangunan yang berkelanjutan dan bukan hanya untuk kepentingan wisatawan, tetapi untuk manfaat bagi seluruh masyarakat.

