Ada sebuah mimpi yang terpendam dalam diri banyak orang: surfing. Rasanya, bayangan terjatuh di atas papan selancar bisa bikin jantung berdebar, tapi yang lebih menakutkan adalah penyesalan jika tidak pernah mencobanya. Ketika ada kesempatan untuk melakukan surfing di Kepulauan Mentawai, Indonesia, saya langsung ambil tanpa pikir panjang. Di sini, arus laut Samudera Hindia mengalir dengan tenang, menciptakan ombak konsisten yang menjadi surga bagi para surfer. Selama bertahun-tahun, hanya para penggila papan yang berani datang ke daerah terpencil ini di selatan Sumatra, tetapi Aloita Resort yang dikelola keluarga telah membuka gerbang bagi lebih banyak orang, termasuk mereka yang baru pertama kali mencobanya.
Tempat yang saya pilih untuk pelajaran pertama ini benar-benar indah: laut berwarna turquoise yang hangat, pantai dengan barisan pohon kelapa, dan fotografer profesional, Grant Davis, siap merekam momen-momen saya. Dengan bimbingan pelatih asal Spanyol, Victoria Lvova, saya merasa mendapatkan guru yang tepat. Dia sangat seru dan tenang, memberi tahu saya tempat yang tepat untuk menunggu datangnya gelombang dengan amplitude rendah.
Namun, saat saya mulai beraksi, saya terjebak dalam rasa panik. Saya meluncur terlalu jauh ke kiri dan menyaksikan dalam ketakutan saat dinding air dari Hokkusai (yang bagi pro dianggap sebagai gelombang kecil) menghampiri saya. Gelombang itu mendorong saya ke bawah, merampas papan dari pegangan saya dan membaliknya terbalik. Saat saya muncul kembali ke permukaan, Victoria sudah ada di sana dengan kata-kata menenangkan, “Semua baik-baik saja,” sambil membantu meletakkan kembali papan selancar. Saya baru saja mengalami wipeout pertama—apa yang paling saya khawatirkan—dan alhamdulillah, saya baik-baik saja. Beberapa ombak lagi datang (saya sempat berdiri sekali), dan wipeout kedua terjadi tanpa drama. Tantangan terbesar, seperti sering terjadi dalam hidup, ternyata adalah sesuatu yang tidak saya duga—kelelahan luar biasa akibat mendayung. Lupakan hiu atau tenggelam; jika ada yang akan membuat saya tumbang, itu adalah rasa sakit di bahu yang sangat intens.
Jadi, apa yang terburuk yang terjadi? Sebuah foto tidak terhormat saat saya berusaha berdiri di papan dengan tangan dan lutut, mengenakan rompi pelampung yang terlihat tidak keren. Memang bukan penampilan yang kuat, tapi saya merasa seperti Superwoman (dan seharusnya saya membanggakan diri, jika saja bahu saya tidak begitu sakit). Pengalaman surfing ini bagaikan pengalaman luar biasa, seolah menjadi pembaptisan ke dunia baru yang lebih berani. Sejak saat itu, rasa percaya diri ini saya bawa ke dalam sisi administrasi dan menulis dalam hidup saya, siap menghadapi tumpukan tugas yang menanti di rumah, lalu mulai menulis artikel. Meskipun saya berada sejauh ribuan mil dari ombak Indonesia, pelajaran yang saya dapatkan akan selalu berbekas.

