Museum Seni Naratif George Lucas akhirnya resmi dibuka di Los Angeles pada 22 September lalu setelah lebih dari sepuluh tahun perencanaan, pembangunan, dan antisipasi yang tinggi dari penggemar di seluruh dunia. Dengan lebih dari 30 galeri seni, taman patung yang indah, serta area hijau seluas 13 hektar, George Lucas dan Mellody Hobson telah mengubah bekas tempat parkir aspal di Exposition Park, LA, menjadi sebuah institusi yang mendefinisikan kembali apa yang seharusnya dipajang di dinding galeri.
Museum ini menawarkan berbagai fasilitas yang menarik, termasuk perpustakaan riset gratis yang dapat diakses oleh publik. Di dalamnya, pengunjung bisa menemukan banyak karya yang tidak hanya menampilkan batasan seni tradisional, tetapi juga mengajak para pengunjung untuk menyelami cerita di balik setiap karya.
George Lucas, yang dikenal sebagai otak dari Star Wars dan Indiana Jones, ingin menciptakan museum yang melayani lebih dari sekadar penggemar film. Sejak masih kuliah lebih dari 50 tahun yang lalu, ia sudah mulai mengumpulkan karya seni. Yang dimulai sebagai beberapa karya komik kini telah berkembang menjadi koleksi beragam dengan lebih dari 40.000 karya yang semuanya memiliki cerita untuk dibagikan.
“Gambar itu sangat kuat, dan cerita juga sangat kuat,” ucap Lucas pada preview media museum pada 2 September, “kedua elemen ini menciptakan sebuah masyarakat.”
Sementara itu, Mellody Hobson, yang menikah dengan Lucas sejak 2013, tidak asing lagi dengan seni naratif. Sebagai CEO dan pebisnis, ia pernah menjabat sebagai ketua di DreamWorks Animation, memimpin perusahaan tersebut saat merilis film-film blockbuster seperti The Penguins of Madagascar dan How to Train Your Dragon.
Koleksi gabungan Lucas dan Hobson mencakup berbagai budaya dan generasi. Setiap karya dikurasi untuk melawan hierarki yang sering kali menjadi norma di museum seni tradisional. Selain lukisan besar dari seniman terkenal Amerika seperti Norman Rockwell dan Frida Kahlo, museum ini juga menyajikan galeri dengan buku komik, manga, dan ilustrasi lainnya yang biasanya hanya bisa dilihat dalam lembaran kertas. Seniman terkenal dalam koleksi ini termasuk Robert Crumb (R. Crumb), legenda dalam dunia komik underground di tahun ’60-an, Jim Davis yang menciptakan Garfield, dan Charles Schulz, kartunis di balik Peanuts. Galeri-galeri ini menampilkan berbagai pencerita, tema, dan medium seni dengan judul-judul yang berpusat pada motif “Keibuan” dan “Olahraga.”
Salah satu pameran menarik di museum ini adalah “Sejarah Seni Asli: Pahlawan, Mitos, Yang Suci” yang menghadirkan rekreasi dari mahakarya kuno seperti Kolom Trajanus.
Dengan pembukaan museum ini, pengunjung tidak hanya akan disuguhkan dengan pengalaman estetika, tetapi juga menjadi bagian dari narasi yang lebih besar tentang seni dan budaya. Setiap sudut museum ini mengajak pengunjung untuk terlibat, berinteraksi, dan menemukan makna di balik setiap karya seni yang dipamerkan—sebuah pengalaman yang pasti tidak boleh dilewatkan, terutama bagi para pencinta seni dan film. Jadi, untuk kalian yang berencana mengunjungi Los Angeles, jangan lupa untuk memasukkan Museum Seni Naratif George Lucas dalam daftar tempat yang harus dikunjungi!
