“Apakah Amsterdam selalu… begini?”, tanya seorang teman yang kini tinggal di kota itu, sambil menunjukkan banyak bendera Pride yang berkibar di sepanjang kanal. “Bendera ini selalu ada,” jawabnya, menegaskan bahwa sikap terbuka kota ini bukanlah sekadar pencitraan, melainkan sebuah pernyataan yang dijunjung tinggi sepanjang tahun.
Setelah memutuskan untuk berjalan satu jam kembali ke hotel, sembari menikmati minuman penutup di samping kucing belang yang sedang asyik mengamati orang-orang. Bir lokal yang kuminum terasa nikmat sambil memperhatikan kerumunan yang terbentuk di seberang jalan, tubuh-tubuh berkilau dengan pakaian pesta, berkeringat dalam suasana malam yang hangat. “Itu klub malam gay,” jelas seorang bartender ketika aku bertanya tentang dunia malam di Amsterdam. “Sangat populer,” tambahnya, sembari merekomendasikan beberapa bar terbaik di kota ini. “Di sini ada untuk semua orang, meskipun kota ini kecil.”
Dunia malam memang jadi bagian besar dari perayaan WorldPride, tapi bukan itu satu-satunya daya tarik. Di Rijksmuseum, koleksi Queer Stories menjelaskan sejarah LGBTQ+ melalui beragam mahakarya Belanda. Kisah cinta dan penindasan dalam bentuk lukisan dan patung seakan berbicara kepada pengunjung dari dalam bingkai yang kaya cerita.
Di The Nieuwe Kerk (Gereja Baru), ada pameran Queer Amsterdam: the Pink City yang membuka jalan menuju museum khusus tentang segala hal LGBTQ+. Pameran ini dibuka menjelang WorldPride pada Juli 2026 dan akan berlangsung hingga April 2027. Di antara mahakarya kuno yang dipajang, ada potret Raja William II karya Jan Adam Kruseman. Dalam deskripsi yang menyertai, terdapat petunjuk mengenai kemungkinan hubungan sesama jenis yang menyentuh hal-hal kontroversial. Saat kabar mengenai rumor ini akan terungkap, William menyetujui revisi konstitusi yang membatasi pengaruhnya dan memberikan lebih banyak kekuatan politik kepada masyarakat. Ia menuliskan, “tabu seputar homoseksualitas memaksa seorang raja untuk membuat keputusan politik yang mungkin tidak akan dia buat sebaliknya.”
Festival dan pameran ini adalah bagian dari perjalanan panjang Amsterdam dalam merangkul keberagaman dan mendorong penerimaan. Dengan lingkungan yang begitu inklusif, banyak yang merasa bisa menjadi diri mereka sendiri tanpa takut akan penilaian. Amsterdam telah membuktikan bahwa komitmen untuk menyebarkan cinta dan penerimaan tidak akan pernah usang, apalagi dalam acara-acara spektakuler seperti WorldPride ini.
Ruang di Amsterdam ini sedang dipenuhi dengan warna-warni kehadiran orang-orang yang merayakan cinta dalam semua bentuknya. Dengan seperti ini, kota ini tidak sekadar menjadi tujuan wisata, tetapi juga menjadi simbol harapan dan inspirasi bagi banyak orang di seluruh dunia. Jadi, jika kamu berencana datang ke Amsterdam, bersiaplah untuk menjelajahi sisi kota ini yang penuh warna, merasakan riuhnya karnaval kebebasan, dan mengagumi sejarahnya yang menawan. Selamat datang di Amsterdam, kota yang akan terus menggoda dengan pesonanya!

