Fokus pada Keberlanjutan di Industri Perhotelan
Bulan ini, Hari Lingkungan Hidup kembali mengingatkan kita akan pentingnya mempercepat aksi terhadap perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan efisiensi sumber daya. Dalam dunia perhotelan, harapan konsumen berubah di dua arah sekaligus. Para tamu kini tak hanya mengharapkan standar kebersihan dan layanan yang tinggi, tetapi juga semakin memperhatikan dampak lingkungan dari penginapan mereka.
Sikap ini muncul seiring dengan meningkatnya perilaku wisata yang lebih sadar dan berkelanjutan. Menurut Laporan Perjalanan Berkelanjutan dari Booking.com (2025), 93% responden mengungkapkan keinginan untuk membuat pilihan perjalanan yang lebih berkelanjutan, sementara 84% merasa bahwa perjalanan berkelanjutan itu penting. Ini menggambarkan bahwa masyarakat kini sangat memperhatikan faktor lingkungan saat memutuskan tempat menginap.
Praktisnya, ini berarti wisatawan aktif mencari akomodasi yang menerapkan praktik bertanggung jawab. Sekitar 36% responden mengatakan mereka mencari tempat menginap yang terverifikasi berkelanjutan, menunjukkan bahwa kredensial hijau kini menjadi bagian dari keputusan pemesanan itu sendiri. Jeffery Madkins, Manajer Pemasaran di Unilever Professional, menekankan bahwa ini bukan lagi sekadar tren, melainkan kenyataan bisnis yang nyata. “Tamu masa kini lebih menyadari jejak lingkungan dari penginapan mereka dan semakin menginginkan tindakan yang jelas dan praktis dari penyedia akomodasi,” ujarnya.
Aksi nyata ini mencakup pengurangan plastik sekali pakai, program penghematan handuk dan linen, sistem pencahayaan dan pengendalian iklim yang efisien, pilihan makanan yang bersumber lokal, hingga komunikasi yang jelas mengenai praktik atau sertifikasi lingkungan. “Ini menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan lagi dianggap sebagai inisiatif terpisah dalam perhotelan,” lanjut Madkins. “Keberlanjutan kini menjadi bagian dari keseluruhan kualitas pengalaman menginap, dan semakin memengaruhi daya saing melalui pemasaran, sertifikasi, dan kebijakan perjalanan perusahaan.”
Di sisi lain, industri perhotelan merupakan salah satu sektor layanan yang paling intensif sumber daya, terutama dalam penggunaan air dan energi. Studi industri menunjukkan bahwa hotel dapat menggunakan ratusan liter air per malam per tamu, terutama akibat layanan laundry, operasi kebersihan, dan proses dapur. Ini memberikan tekanan yang cukup besar bagi tempat-tempat penginapan, terutama di daerah yang mengalami krisis air, seperti beberapa bagian di Afrika Selatan.
Secara global, kelangkaan air juga semakin parah. Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan bahwa miliaran orang mengalami kekurangan air setidaknya sebagian tahun, menyoroti bagaimana air menjadi risiko lingkungan dan operasional bagi industri layanan yang bergantung pada pasokan yang terus-menerus.
Seperti yang dijelaskan oleh Madkins, tantangan keberlanjutan yang nyata di perhotelan tak selalu terlihat oleh tamu. Peningkatan yang paling signifikan sering kali ditemukan di latar belakang: pada siklus laundry, sanitasi dapur, dan rutinitas kebersihan, di mana perbaikan efisiensi kecil dapat secara signifikan mengurangi konsumsi air dan produk secara besar-besaran.
Tidak hanya efisiensi proses yang berubah, tetapi pola pikir industri juga ikut berkembang. “Kinerja kebersihan dan lingkungan dalam perhotelan tidak bisa lagi menjadi dua pembicaraan terpisah,” tegasnya. “Setiap proses kebersihan membawa biaya sumber daya, dari air dan energi hingga bahan kimia yang digunakan, sehingga cara sistem tersebut dirancang memiliki dampak langsung pada kinerja lingkungan.”
Pendekatan ini terhadap kebersihan yang lebih ramah lingkungan juga mendorong minat pada solusi pembersihan inovatif, termasuk produk yang dirancang untuk mempertahankan kinerja higienis sambil mengurangi penggunaan produk secara keseluruhan, seperti pembersih probiotik. Inilah yang diwakili oleh konsep “ruang bersih, jejak lebih kecil”: pengalaman tamu yang luar biasa dan penggunaan sumber daya yang bertanggung jawab, bukan lagi prioritas yang saling bertentangan, tetapi dicapai melalui praktik operasional yang sama. Keberlanjutan kini bukan lagi sekadar tambahan pada operasi; ia menjadi bagian dari inti operasional itu sendiri.
“Penyedia akomodasi yang akan memimpin di dekade mendatang adalah mereka yang merancang keberlanjutan ke dalam setiap proses, bukan hanya menambahkannya setelahnya,” tutup Madkins.

