Belakangan ini, membuat roti dan kue dengan tepung beras lagi booming di Jepang. Kenapa? Dengan harga beras yang melonjak, banyak keluarga merasakan dampaknya di dompet mereka. Meski tepung beras biasanya dua kali lipat lebih mahal dibandingkan tepung terigu, popularitasnya terus berkembang. Ini adalah boom kedua dalam 20 tahun terakhir, dan kali ini sepertinya tahan lama.
Mengapa tepung beras sedang naik daun
Kue chiffon mini adalah salah satu jenis manis yang bisa dibuat dengan tepung beras. Gambar: Rachel / Pixta
Konfeksi tepung beras saat ini memadukan pengetahuan dan teknik dari masa lalu, namun juga berkembang dengan menyertakan yougashi (kue barat) dan youshoku (makanan bergaya barat), seperti roti dan scone.
Tren ini sepertinya tidak menunjukkan tanda-tanda melambat. Situs resep populer Cookpad mencatat pencarian resep tepung beras hampir tiga kali lipat antara 2020 dan 2025, dengan bagel menjadi favorit banyak orang. Situs resep saingan, Delish Kitchen, juga menunjukkan lonjakan pencarian untuk resep tepung beras dalam periode yang sama. Selain itu, Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang (MAFF) melaporkan adanya peningkatan permintaan untuk beras yang ditanam khusus untuk produksi tepung beras.
Walau kelihatannya boom ini mulai meroket di tahun 2020, didorong oleh hobi yang muncul akibat pandemi, lonjakan ketertarikan ini benar-benar mulai terasa pada tahun 2022. Semua ini dipicu oleh dinamika politik global, kemajuan di bidang pertanian, dan tren makanan sehat.
Dari bagel hingga donat
Membuat bagel dari tepung beras sedang menjadi tren dalam beberapa bulan terakhir. Gambar: Rachel / Pixta
Di konferensi Tepung Beras 2026, beberapa makanan berhasil disebut sebagai tren baru dalam dunia kuliner tepung beras.
Sandwich Bagel
Baru-baru ini, resep bagel tepung beras menjadi pencarian terpopuler di situs-situs memasak, seperti Cookpad. Toko-toko khusus yang menjual bagel juga bermunculan dari Tokyo sampai Fukuoka.
Bagel meraih penghargaan roti terbaik di konferensi Tepung Beras 2025, dan popularitasnya terus meningkat. Sandwich bagel dianggap sebagai cara yang tepat untuk menonjolkan tepung beras karena variasi toping yang bisa dipilih serta teksturnya yang kenyal.
Donat
Donat yang terbuat dari tepung beras juga jadi salah satu tren manis yang berkualitas, dengan tekstur yang kenyal dan menggoda. Beberapa konsumen percaya donat tepung beras lebih sehat daripada donat tepung terigu karena menyerap lebih sedikit minyak saat digoreng.
Rantai toko donat Mister Donut adalah perintis penggunaan tepung beras, meluncurkan donat tepung beras pertama mereka pada tahun 2009, bertepatan dengan booming pertama. Kini, seri mocchurin mereka yang terbuat dari campuran tepung beras sangat populer karena teksturnya yang mochimochi (kenyal) cocok dengan cita rasa khas Jepang, seperti mitarashi (kecap manis).
Lebih dari sekadar tren bebas gluten
Resep donat tepung beras sedang tren, sementara versi Mister Donut sangat laris. Gambar: Takako / Pixta
Selain dorongan dari MAFF dan hadirnya varietas tepung beras yang lebih baik, baking dengan tepung beras juga jadi populer karena dianggap sehat. Survei pengguna Delish Kitchen menunjukkan bahwa para koki rumahan tertarik pada tepung beras karena bebas gluten dan sering dianggap sebagai makanan bergizi serta ramah diet. Dengan banyaknya kue dan karbohidrat yang diolah dari tepung beras, sepertinya perlu dipertanyakan mengapa konsumen melihatnya sebagai pilihan lebih sehat dibandingkan tepung terigu.
Hal ini bisa dilacak dari banyaknya penelitian yang menunjukkan bahwa tepung beras menyerap lebih sedikit minyak dibandingkan tepung terigu dan memiliki proporsi asam amino yang lebih tinggi. MAFF menyoroti informasi ini baik di situs promosi luar negeri untuk mengekspor tepung beras Jepang maupun situs promosi domestiknya. Ketika pengetahuan ini dipadukan dengan label bebas gluten yang sedang tren serta preferensi umum terhadap produk buatan Jepang, hasilnya semakin banyak konsumen di Jepang yang melihat tepung beras sebagai investasi yang berharga.
Dorongan pemerintah untuk tepung beras
Keamanan pangan, atau kemampuan untuk memproduksi cukup makanan secara domestik untuk memberi makan negara, telah lama menjadi perhatian di Jepang karena jumlah penduduk yang besar dan kapasitas pertanian yang terbatas. Masalah ini sepertinya akan terus berlanjut mengingat sektor pertanian menghadapi tantangan akibat depopulasi dan penurunan jumlah penduduk.
Pada awal tahun 2020-an, beberapa faktor semakin memperburuk keadaan pangan yang sudah tidak stabil. Gangguan rantai pasokan global selama pandemi COVID dan invasi Rusia ke Ukraina—salah satu negara penghasil gandum terbesar di dunia—menyebabkan kepanikan baru di Jepang mengenai keamanan pangan.
Dalam konteks ini, pemerintah Jepang perlu mendorong baik produksi maupun konsumsi beras. Dengan diversifikasi budaya makanan selama 50 tahun terakhir, kementerian ini telah lama was-was terhadap mie dan roti berbahan dasar terigu yang mengandalkan impor. MAFF melihat peluang dalam mempromosikan tepung beras untuk konsumsi domestik dan internasional. Bahkan di tengah krisis harga beras pada tahun 2025 dan 2026, MAFF tetap mempromosikan tepung beras sebagai alternatif, termasuk menggelar konferensi Tepung Beras pada tahun 2026.
Roti yang lebih baik, hasil panggangan yang lebih baik
Ada perubahan signifikan dalam cara produksi tepung beras. Gambar: ばりろく / Pixta
Sementara pemerintah Jepang telah lama berusaha untuk meningkatkan konsumsi beras, pada akhirnya, rasa dari produk tepung beras itu sendiri yang menentukan popularitasnya. Sebetulnya, rasa dan tekstur adalah dua alasan mengapa booming tepung beras yang pertama menghilang. Boom pertama yang dimulai sekitar 2009 didorong oleh ketertarikan pada kesehatan. Namun, ketika itu, para petani biasanya tidak menggunakan varietas padi khusus untuk membuat tepung yang lebih cocok untuk baking. Akibatnya, saat beras digiling menjadi tepung, pati akan rusak dan menghasilkan produk panggangan yang padat dan lembek. Dengan hasil yang tidak memuaskan, minat terhadap tepung beras pun merosot pada tahun 2014.
Dalam beberapa tahun terakhir, kemajuan di bidang pertanian telah meningkatkan kualitas tepung beras. Dengan menggunakan varietas baru seperti Mizuho Chikara, yang mulai dikembangkan selama booming pertama di Kumamoto, generasi tepung saat ini bisa memanfaatkan tekstur kenyal dan elastis dari beras tanpa membuatnya terlalu keras atau lembek. Varietas ini diciptakan khusus untuk baking roti dan kue. Para influencer di media sosial, seperti Suzuki Atsuko dan Ecocoro, juga memainkan peran penting dalam memperluas pasar produk panggangan tepung beras buatan rumah. Mereka tidak hanya populer di dunia maya, tetapi juga telah menerbitkan buku masak.
Tren dengan akar yang lebih dalam
Pembuatan kue dengan tepung beras di Jepang memiliki sejarah yang lebih panjang dibandingkan dengan baking bebas gluten ala barat. Gambar: Hana-Photo / iStock
Ide menggunakan tepung beras untuk membuat makanan manis dan gurih datang ke Jepang dari China pada masa Nara (710-794). Hingga periode Edo (1603-1867), wagashi (kue tradisional Jepang) dengan tepung beras sebagai bahan utama mulai populer. Mengikuti revolusi industri di akhir abad kesembilan belas, teknik penggilingan yang lebih baik dikembangkan, menghasilkan tepung beras berkualitas tinggi yang ideal untuk membuat kue. Ini membawa perubahan besar bagi makanan manis berbahan tepung beras yang kini bersinar di media sosial.
Boom tepung beras pertama sudah berlalu, namun kali ini, kinerja baking yang lebih baik, selera konsumen yang berubah, dan dukungan berkelanjutan dari influencer serta pembuat kebijakan memberikan gambaran bahwa tepung beras mungkin akan terus hadir dalam dunia kuliner Jepang.

