Tahun lalu, ada momen seru yang nge-hits banget setelah saya diundang untuk mencicipi restoran baru, Dirty French, yang dibuka beberapa bulan setelah hotelnya. Sejak kunjungan pertama itu, rasanya seperti jatuh cinta pada pandangan pertama. Dalam 12 tahun terakhir, saya sudah bolak-balik ke sana untuk makan, dan kali ini sudah sepuluh kali menjadi tamu hotel, baik sebagai penduduk NYC maupun setelah saya pindah ke Los Angeles pada 2021.
Pengalaman menginap yang menenangkan:
The Ludlow punya vibe yang unik, seolah-olah terkurung dalam kenyamanan sekaligus penuh kehidupan downtown. Hotel butik dengan 175 kamar ini mengusung estetika Lower East Side yang gelap—perabotan kayu yang dalam, aksen kuningan, jendela besar, dan kamar mandi marmer. Beberapa kamar bahkan dilengkapi dengan bathtub dan pemandangan langit yang memukau. Fasilitas seperti layanan makan dalam kamar 24 jam dan pusat kebugaran yang buka 24 jam bikin tamu betah, bahkan bisa ngilangin jet lag. Anda bisa menghabiskan waktu santai sambil menikmati minuman di lobi, atau makan enak di ruang makan stylish Dirty French. Tempat ini cocok banget untuk malam seru di sekitar atau untuk menghabiskan waktu santai di dalam hotel.
Tempat menarik di sekitar:
Hotel bintang empat ini hanya seberang jalan dari Katz’s, deli ikonik yang jadi favorit di film rom-com kesukaan, When Harry Met Sally. Hanya beberapa menit dari bar-bar terbaik di kota (coba mampir ke Bar Belly, Double Chicken Please, atau Attaboy untuk bersenang-senang), dan dekat dengan banyak stasiun subway. Di pagi hari, bisa ambil bagel di bodega terdekat atau bertualang ke timur untuk mencicipi pancake di Clinton St. Baking Co. Jika jalan lebih ke utara, Anda sudah sampai di East Village; terus ke timur lagi, dan akan tiba di Alphabet City, salah satu tempat terbaik untuk menjelajahi dan menikmati koktail (atau dua, atau tiga). Jangan lupa mampir di ABC Beer Co. untuk bir, lalu menuju Bobwhite’s untuk menyantap sandwich ayam yang lezat.
Alasan saya selalu kembali:
Walaupun pertama kali menginap di The Ludlow berkat undangan pers, beberapa kunjungan berikutnya saya lakukan dengan uang hasil kerja keras—staycations yang bikin saya bisa kabur dari teman sekamar untuk satu malam, ngopi di downtown bareng teman, pesan layanan kamar, dan berendam sambil menikmati pemandangan skyline. Saya suka betul dengan tempat tidurnya yang berbahan linen bersih dan terasa segar, serta jubah mandi yang terbuat dari kain terry cloth yang empuk. Meski kamar-kamar agak kecil (apalagi yang saya bayar di tahun-tahun awal), tetap terasa stylish dan chic.
Setiap kunjungan ke The Ludlow memberikan pengalaman yang berbeda, dan itu bikin penggemar traveling terus memasukkan hotel ini dalam daftar tempat yang harus dikunjungi. Jadi, bagi yang mencari tempat seru di NYC dengan suasana yang cozy sekaligus trendy, The Ludlow adalah pilihan yang tidak akan mengecewakan!

