Ketika memutuskan untuk tidur alih-alih makan, berbagai fasilitas yang tersedia akan menjamin istirahat yang tenang dan nyenyak. Fasilitas ini mencakup headphone over-ear yang super nyaman, kit amenitas dari Sisley penuh dengan krim dan lotion pelembap, serta beragam opsi pengisian daya di dekat tempat duduk—mulai dari USB-C, USB-A, colokan tradisional, hingga pad pengisian nirkabel yang tertanam di konsol samping. Setiap suite juga dilengkapi dengan dua layar 32 inci 4K (yang gede banget), diatur agar mudah terlihat baik saat duduk tegak maupun bersantai di tempat tidur. Ketika berganti baju dengan piyama Jacquemus, pramugari memberikan hanger untuk pakaian saya (yang kemudian dia antar ke kursi saya keesokan harinya), dan dengan sigap membuatkan tempat tidur saya selama saya mencuci muka di kamar mandi: kasur empuk, selimut tebal, dan bantal berbulu yang disusun mengundang saya untuk merasakan kenyamanan layaknya di hotel bintang lima di Paris. Terbungkus dalam selimut lembut, dan dipandu oleh gerakan halus pesawat, saya menonton Wicked untuk kesekian kalinya dan perlahan tertidur. Dalam hal ini, tidak berlebihan jika dibilang rasanya seperti tidur di atas awan.
Selama empat jam ke depan, saya tidur nyenyak dan terbangun tepat waktu untuk sarapan: telur orak-arik dengan truffle, buah segar, dan teh panas lagi. Saat kami mendarat di Paris, tayangan langsung dari kamera yang menunjukkan pendekatan bandara muncul di layar besar di depan saya. Detail kecil ini ternyata sangat mengharukan, membuat kedatangan kami terasa seperti adegan dalam film.
Setelah penerbangan: Bandara CDG
Sesuai ekspektasi, saya disambut begitu pintu pesawat terbuka: tidak ada perjuangan untuk mengangkat koper, tidak perlu menunggu di lorong. Dalam beberapa menit, saya langsung dibawa ke pintu keluar pribadi di samping gerbang kami, dari mana sebuah Porsche menjemput saya menuju kontrol paspor. Saya bahkan tidak perlu keluar dari mobil—sopir mengumpulkan paspor saya, membawanya masuk, dan dalam hitungan menit kembali siap untuk pergi. Inilah detail kecil yang membuat kita sadar, bahwa kelelahan saat bepergian dengan pesawat bukan hanya dari penerbangannya saja, tapi juga semua tugas kecil dan stres yang harus dilalui untuk sampai ke pesawat. Begitu saja, kami melanjutkan perjalanan ke dalam bandara.
Dari sini, kami menuju “vestibule” La Première, lounge kecil untuk penumpang yang baru tiba di CDG, yang terbagi menjadi zona-zona berbeda: area bar besar, area relaksasi, dan beberapa area duduk yang beragam. Permata dari pengalaman darat Air France—La Première Lounge di Terminal 2E—jauh lebih besar dengan luas mencapai 11.000 kaki persegi, namun hanya untuk penumpang La Première yang berangkat dari CDG.
Meskipun intim ukurannya, vestibule kedatangan ini tetap mempertahankan nuansa eksklusif dan tidak ramai. Untuk individu-individu berprofil tinggi yang mencari privasi total saat tiba, tersedia tiga suite tertutup sepenuhnya yang bisa dipesan untuk beristirahat atau bekerja. Beberapa pilihan makanan yang mengesankan, termasuk hidangan pasta elbow khas Air France, croissant, baguette dengan mentega, scallop, dan masih banyak lagi, disuguhkan di sini.

