Tennis itu beda! Gak seperti olahraga lain yang hanya mengandalkan satu turnamen besar, di sini ada ratusan pertandingan di setiap kejuaraan utama yang kita kenal sebagai Grand Slams. Fans bisa memilih petualangan mereka sendiri, mau hop dari satu lapangan ke lapangan lain, fokus ke pemain favorit, atau sekadar menikmati suasana dengan makanan dan minuman khas yang ada di sekitar. Makanya, pengalaman menonton ini jadi salah satu yang paling seru untuk dijadikan destinasi wisata.
Gak heran kalau para penggemar rela menempuh jarak jauh untuk bisa menikmati turnamen ini. Kayak yang diceritakan oleh jurnalis tennis Chris Oddo dalam wawancaranya dengan Condé Nast Traveler, minat terhadap acara-acara ini lagi naik daun banget. Saat ini ia lagi meliput French Open, kejuaraan kedua dalam musim yang juga dikenal dengan nama Roland Garros, yang akan berlangsung sampai 7 Juni.
Musim 2026 dimulai dengan meriah di bulan Januari ketika Australian Open di Melbourne mencetak rekor baru dengan total pengunjung mencapai 1,37 juta, meningkat hingga 14 persen dibanding tahun lalu! Bahkan, mitra hotel resminya, Marriott International, mencatat kenaikan 4 persen pada jumlah pemesanan dari tamu internasional, termasuk lonjakan luar biasa sebesar 20 persen untuk pengunjung asal Amerika di akhir pekan terakhir. Grand Slam lain, seperti US Open, juga mengalami pertumbuhan penonton yang luar biasa, memecahkan rekor kehadiran berturut-turut.
Di US Open pertama saya pada tahun 2003, saya langsung merasa terpesona dengan banyaknya kegiatan yang ditawarkan. Saya cepat belajar, ini adalah pengalaman “pilih petualangan sendiri”. Sepanjang tahun, saya pernah berpose dengan trofi kejuaraan bareng ayah, melihat keponakan saya mengumpulkan tanda tangan pemain usai sesi latihan, bahkan sempat main beberapa poin di lapangan indoor sama teman (apakah itu berarti saya sudah main di US Open?!). Tapi tradisi favorit saya adalah mencicipi semua makanan yang ada: dari makanan stadion biasa menjadi pengalaman kuliner yang dipikirkan dengan matang, berorientasi ke komunitas dan chef, yang bikin food court-nya jadi destinasi tersendiri.
Selama bertahun-tahun, saya telah mengembangkan kecintaan saya pada Grand Slams hingga ke luar negeri, menghadiri Wimbledon dan menjelajahi museum serta venue-nya di luar musim, serta mengunjungi venue Aussie Open dan pop-up French Open di Paris. Setiap Grand Slam punya karakter uniknya, namun semuanya menyimpan keajaiban yang bikin deg-degan dan sedikit mengintimidasi, terutama bagi para pertama kali yang mungkin tidak menyangka luasnya area dan tawaran yang ada.
Karena itu, kami mengulik informasi dari para insider, mulai dari pemain pro kayak Jessica Pegula, No. 4 Amerika, sampai Maria Sharapova, anggota baru Hall of Fame Tennis Internasional (ITHF) angkatan 2025, dan Tommy Haas, semifinalis Grand Slam empat kali. Kami juga ngobrol dengan pendiri perusahaan tur tenis, pelatih, hingga penjual makanan, untuk mencari tahu aturan tak tertulis saat menghadiri Grand Slam.
Datang lebih awal di turnamen
Semua Grand Slam mengikuti sistem eliminasi berbasis bracket, jadi di awal turnamen ada lebih banyak pertandingan, sebelum pemain-pemain mulai pulang setelah kalah. Pegula menyarankan supaya datang lebih awal di minggu pertama turnamen. “Kamu bisa nonton banyak pertandingan, dan biasanya lebih murah serta lebih gampang,” ungkap duta World of Hyatt ini. Dia juga pernah melihat temannya yang mungkin bukan penggemar tenis banget, jadi paham tentang pemain-pemain muda yang bisa bersinar dengan menonton mereka di lapangan kecil lebih awal. “Mungkin aja orang itu tampil baik, dan kamu punya koneksi dengan mereka untuk diikuti,” ujarnya.
Jadi, siap-siap deh untuk merasakan keseruan dan keunikan dari setiap Grand Slam yang ada. Dengan semua pengalaman, makanan, dan kerinduan untuk melihat aksi di lapangan, ini adalah saat yang tepat untuk mengemas koper dan menjelajahi dunia tenis!

