Setelah menyantap sarapan—biasanya roti baguette, keju lembut, telur rebus, dan kue—kami berkemas dan siap untuk menjelajahi alam sekitar, baik dengan berjalan kaki maupun berkendara. Sekitar tengah hari, kami berhenti untuk makan siang (biasanya salad dan potongan melon juicy) di tempat yang teduh. Kami lalu menikmati siesta di atas kasur tidur di tenda sebelum melanjutkan perjalanan ke lokasi perkemahan berikutnya di sore hari. Juru masak kami, Khaled Hamaoui, menyiapkan makan malam yang lezat—sup berbasis biji-bijian dan couscous atau rebusan sayuran—sementara kami mendaki bukit pasir saat matahari tenggelam, mengobrol di sekitar api unggun, dan menyaksikan Moussa Hemaya memulai proses memasak teh mint khas Maghrebi selama satu jam. Ia menuangkan teh tersebut dengan gaya yang tinggi agar mendapatkan busa di atasnya. Rasanya menarik sekali, seolah kami adalah satu-satunya orang di sekitar. Khirani berharap hal ini terus berlanjut.
“Sejujurnya, saya tidak ingin Aljazair menjadi seperti Maroko, Tunisia, atau Mesir,” ujar Khirani saat kami berkendara meninggalkan Djanet dalam konvoi empat mobil Toyota 4×4. Pandangannya ini juga sejalan dengan apa yang disampaikan Messgo. Kedua pemandu ini bercerita tentang betapa santainya suasana di Aljazair untuk para pelancong. Ketika penulis mengunjungi pasar Djanet, misalnya, kami disambut dengan ramah, namun tetap diberi kebebasan untuk menjelajahi stan-stan perhiasan dan kain.
Untuk urusan gurun, lanjut Khirani, masih terasa terpencil. “Gurun bagi saya berarti ketenangan pikiran,” ungkapnya. “Ini adalah perasaan seperti kekosongan, tetapi dengan kebahagiaan yang sulit dijelaskan.” Ia bertekad untuk melindungi pengalaman ini sambil mendorong pariwisata dengan cara yang cerdas.
Menyelami suasana magis gurun Aljazair, menciptakan kenangan tak terlupakan yang bikin siapa pun terpesona. Dari langit yang biru hingga pasir yang berkilau di bawah sinar matahari, setiap momen di sini seperti sebuah lukisan hidup. Bayangkan saja kawan, saat pagi menjelang, pemandangan mengagumkan dari pasir yang terpancar rona keemasan, menandakan hari baru yang penuh potensi.
Sore menjelang malam dan saat matahari mulai tenggelam, warna-warni langit yang bergradasi memanjakan mata. Ini adalah waktu yang tepat untuk merenungkan apa yang sudah dijelajahi. Semua suasana ini diiringi oleh suara angin yang lembut, seakan bergabung dalam percakapan antara langit dan tanah. Rasanya, saat ini, segala beban dunia dihapus begitu saja.
Momen-momen seru dalam perjalanan ini juga diwarnai dengan beragam kuliner yang menggugah selera. Mulai dari roti taze, hidangan khas yang sering disajikan di daerah sekitar, hingga rebusan yang menghangatkan. Setiap suapan memberi gambaran mendalam tentang keragaman budaya di Aljazair. Baik itu berbagi cerita di sekeliling api unggun atau menikmati teh mint, semuanya menjadi highlight yang tak terlupakan.
Saat menelusuri jejak-jejak sejarah, para pengunjung bisa menemukan banyak lukisan batu kuno yang memperlihatkan kekayaan budaya dan spiritualitas daerah ini. Berada di tengah kebudayaan yang kaya, sambil dikelilingi oleh keindahan alam yang menawan, siapa yang tidak mau terpesona? Dengan rasa kerinduan untuk melestarikan keindahan ini, Khirani bersama timnya berharap agar Aljazair tetap menjadi tempat yang tenang untuk para wisatawan dan pelancong tahun depan dan seterusnya.
Melihat kekayaan alam sekaligus warisan budaya yang dimiliki Aljazair saat ini, banyak orang sepakat bahwa perjalanan ke sini bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan pengalaman luar biasa yang akan terus teringat di hati. Segalanya terasa lebih berharga ketika petualangan ini membawa kita ke sudut-sudut yang jarang terjamah, tempat di mana sejarah dan alam bersatu dalam harmoni yang sempurna.
Jadi, jika kamu mencari destinasi yang menawarkan petualangan tanpa henti dan suasana damai, sangat pas untuk mengagendakan perjalanan ke Aljazair. Dengan segala pesonanya yang unik, bersiaplah untuk terhipnotis dalam keindahan alam dan kehangatan yang ditawarkan oleh masyarakatnya.

