Penulis Min Jin Lee baru-baru ini melakukan perjalanan ke Sydney untuk memeriksa fakta dan menyempurnakan novel barunya, American Hagwon. Buku ini adalah kelanjutan dari karya-karya sebelumnya, Free Food for Millionaires dan Pachinko. Dalam novel baru ini, kita bertemu dengan keluarga Koh, yang mengalami kehancuran akibat pengkhianatan seorang teman dan krisis finansial Asia 1997. Mereka berpindah dari Korea Selatan ke Australia, lalu ke Amerika Serikat, sambil mempertanyakan nilai pendidikan dan pengalaman kerja mereka di seluruh dunia. Tema pendidikan adalah inti dari cerita ini, di mana hagwons adalah sekolah swasta Korea yang mempersiapkan siswa untuk ujian dan gelar yang akan mendukung masa depan yang sejahtera. Di bawah ini, Lee menceritakan bagaimana kunjungan terbarunya ke Australia membantunya memoles novel ini, serta pengalaman perjalanan yang tak terlupakan.
Pada tahun 2025, setelah menyerahkan naskah American Hagwon, Lee pergi ke Sydney untuk melakukan pemeriksaan fakta. Buku ini menggambarkan perjuangan keluarga kelas menengah yang tidak memiliki kekayaan generasi untuk memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka. Meskipun sudah empat kali ke Australia, perjalanan kali ini terasa sangat berarti, karena seolah-olah ia berkesempatan untuk bertemu karakter-karakternya secara langsung.
Salah satu karakter dalam novelnya kuliah di University of Sydney selama setahun, di mana ia menjadi lebih percaya diri dengan bergabung di SUDS, Sydney University Drama Society—perusahaan teater tertua yang masih beroperasi di Australia. Lee mengunjungi Cellar Theater, tempat pertunjukan berlangsung, dan bertemu dengan para aktor serta penulis yang terlibat dalam SUDS. Meskipun bukan orang teater, Lee belajar tentang semangat kolaborasi di dunia teater kampus. Semua orang berkontribusi—mulai dari memposting poster hingga menjual tiket dan menjadi pemain di atas panggung. Pengalaman ini membawa perspektif baru baginya tentang bagaimana seorang pemuda bisa menjadi performer yang kreatif.
Lee juga mendalami cara menjadi pengacara di Australia. Seorang teman yang berpraktik di Sydney memperkenalkannya kepada seorang barrister, yang mengundangnya untuk mengunjungi kantornya. Di sini, istilah chambers berarti kantor sebuah kelompok barrister. Dia menemukan bahwa para praktisi hukum di Australia memiliki peran yang berbeda—dari solicitor yang mengurus tugas hukum sehari-hari hingga barrister yang berlitigasi di pengadilan. Sistemnya sangat berbeda dengan yang ada di Amerika Serikat, dan sebagai mantan pengacara, Lee merasa terkejut dengan hal ini. Ia berbincang dengan berbagai barrister, termasuk beberapa yang berkebangsaan Korea Australia. Anehnya, ia bertemu dengan seseorang bernama Danbi, yang diambil dari nama karakter antagonis dalam American Hagwon. Namun, yang satu ini sangat berbeda: dia sangat serius, religius, dan bermoral tinggi. Hal ini menjadi sangat lucu baginya.
Pertemuan dengan barrister dan alumni SUDS membantunya memahami karakteristik individu yang dihasilkan dari sistem pendidikan Australia. Lee merasa bahwa orang-orang di Australia tidak memiliki ketakutan yang sama akan utang seperti orang-orang Amerika. Terdapat program bernama Higher Education Contribution Scheme (HECS), di mana pinjaman pendidikan tidak akan mengakumulasi bunga, dan bisa dibayarkan begitu pendapatan seseorang melampaui ambang tertentu. Ini menjadikan pendidikan tidak menjadi beban yang berat.
Selain itu, ada juga Technical and Further Education (TAFE), sebuah pathway yang dijalankan pemerintah untuk pelatihan vokasional. TAFE memberi orang kesempatan untuk belajar dan mendapatkan uang sambil mengejar keahlian baru, seperti menjadi penata rambut, mekanik, atau akuntan. Seorang yang kehilangan segalanya akibat krisis finansial Asia di akhir 1990-an bisa saja pindah ke Sydney dan, melalui TAFE, mengubah nasib menjadi teknisi perbaikan AC. Sistem ini terasa lebih manusiawi dan memberikan harapan baru.
Lee sangat bersemangat tentang wawasan yang ia dapat selama di Sydney. Kunjungannya tak hanya memperkaya pemahamannya tentang dunia pendidikan multinasional, tapi juga memberi kedalaman dan keaslian pada karakter-karakter dalam novel terbarunya. Dalam kancah sastra yang semakin terkoneksi ini, perjalanan bisa jadi bukan hanya tentang destinasi fisik, tetapi juga menjelajahi pengalaman dan kebudayaan yang membawa kita lebih dekat dengan realita yang ada.
Menanti kehadiran American Hagwon, Lee memberikan warna baru bagi pembaca dalam memahami tantangan yang dihadapi oleh individu-imdividu dalam meraih pendidikan dan mimpi di luar batasan geografis. Sydney, dengan segala kekayaannya, menjadi saksi perjalanan ini, dan juga wadah inspirasi bagi banyak penulis di luar sana.

