Pemimpin Pariwisata Abu Dhabi, Saleh Al Geziry, Masuk Daftar 100 Pemimpin Pariwisata Versi Forbes
Forbes Middle East baru aja merilis daftar Top 100 Travel and Tourism Leaders untuk tahun 2026, dan salah satu nama yang menarik perhatian adalah Saleh Mohamed Al Geziry, yang menempati posisi keempat. Pengakuan ini datang sebagai penghormatan bagi Al Geziry, salah satu arsitek utama di balik kemajuan Abu Dhabi sebagai tujuan pariwisata yang kompetitif secara global dalam sektor budaya, rekreasi, dan bisnis.
Tahun lalu, Abu Dhabi berhasil menyambut 26,6 juta pengunjung, dan pendapatan hotel pun mengalami lonjakan 19,5 persen, mencapai AED 9,1 miliar. Selain itu, jumlah delegasi MICE meningkat hingga 40 persen menjadi 2,2 juta. Angka-angka ini pastinya cuma menggambarkan sebagian dari kemajuan yang terjadi.
Sejak menjabat sebagai Direktur Jenderal Pariwisata di Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Abu Dhabi pada April 2022, Al Geziry telah memimpin pengembangan emirate ini, menjadikannya tidak hanya sekadar kumpulan atraksi kelas dunia, tetapi juga ekosistem tujuan yang terhubung, mencakup berbagai aspek seperti budaya, perhotelan, hiburan, olahraga, gastronomi, acara bisnis, teknologi, hingga warisan Emirati.
Perjalanan karier Al Geziry cukup beragam. Ia memulai langkahnya di Departemen Pariwisata dan Pemasaran Perdagangan Dubai pada tahun 2002 setelah mendapatkan gelar sarjana di bidang pemasaran dari American University di Dubai. Ia kemudian melanjutkan pendidikan dengan memperoleh diploma eksekutif dalam administrasi publik di Lee Kuan Yew School of Public Policy di Singapura.
Selama 12 tahun di Dubai Tourism, ia berhasil naik jabatan menjadi Direktur Promosi Luar Negeri dan Misi Masuk. Di sana, Al Geziry memimpin delegasi internasional dan ikut serta dalam lebih dari 100 pameran serta roadshow, membangun citra Dubai di pasar seperti India dan Cina, di saat kedua negara tersebut sedang mengalami transformasi dalam pariwisata outbound global.
Ini adalah masa pembentukan baginya. Pemasaran tujuan pariwisata di awal 2000-an masih sangat bergantung pada hubungan bisnis, roadshow, dan kantor pariwisata nasional. Al Geziry belajar bagaimana maskapai penerbangan, operator tur, hotel, tempat wisata, peritel, dan pemerintah harus bekerja sama untuk menciptakan permintaan.
Pencapaian ini pun berbuah penghargaan dari Dubai Government Excellence Award, serta kelulusannya dari Program Kepemimpinan Mohammed Bin Rashid.
Di tahun 2014, Al Geziry melanjutkan kariernya di sektor swasta bersama Meraas, awalnya menjabat sebagai Direktur Perhotelan sebelum kemudian menjadi Wakil Presiden Ritel. Di sana, ia berfokus pada pengembangan sektor pariwisata dan berkontribusi dalam pembukaan berbagai tempat terkenal seperti City Walk, The Beach, hingga Boxpark.
Pengalaman ini mengajarkannya bahwa tempat yang sukses bukan sekadar soal promosi. Destinasi harus memiliki tempat yang menarik, konsep yang layak investasi, serta mitra operasional yang kuat dan pengalaman yang dihargai baik oleh penduduk lokal maupun turis.
Pada tahun 2017, Al Geziry dilantik sebagai Direktur Jenderal Departemen Pengembangan Pariwisata Ajman. Tugasnya adalah memperkuat kontribusi pariwisata pada ekonomi emirate sembari membangun Ajman sebagai tujuan yang unik.
Al Geziry memiliki pendekatan yang cerdas, tidak berusaha meniru tetangga besarnya, tetapi justru memanfaatkan aset yang dimiliki Ajman, seperti pantai, lanskap alam, situs arkeologi, dan warisan mutiara. Selama masa tugasnya, otoritas pariwisata membuka kantor perwakilan pertama di Inggris dan Irlandia dan memperkenalkan investasi dalam pariwisata niche, budaya, serta pengalaman.
Gabungan pemasaran destinasi global, pengembangan sektor swasta, dan kepemimpinan sektor publik membuat Al Geziry menjadi pilihan yang tepat untuk memimpin sektor pariwisata Abu Dhabi saat ia diangkat pada tahun 2022. Ia datang ketika pariwisata internasional baru mulai bangkit setelah pandemi dan Abu Dhabi sedang mempersiapkan diri untuk mempercepat diversifikasi ekonominya.
Tugasnya lebih dari sekadar mengembalikan jumlah pengunjung, tetapi juga membantu memposisikan pariwisata sebagai motor investasi, pekerjaan, dan pengaruh internasional jangka panjang.
Pusat dari semua usaha ini adalah Strategi Pariwisata Abu Dhabi 2030. Strategi ini bertujuan meningkatkan jumlah pengunjung tahunan dari hampir 24 juta pada tahun 2023 menjadi 39,3 juta pada akhir dekade ini, serta meningkatkan kontribusi ekonomi pariwisata dari sekitar AED 49 miliar menjadi AED 90 miliar. Selain itu, mereka juga menargetkan penciptaan 178.000 pekerjaan baru dan hampir menggandakan jumlah pengunjung internasional yang menginap menjadi 7,2 juta.
Kapastitas hotel juga direncanakan untuk tumbuh dari 34.000 kamar pada tahun 2023 menjadi 52.000 pada tahun 2030, didukung oleh pembukaan resor baru dan variasi akomodasi yang lebih luas.
Strategi ini mencerminkan pengaruh Al Geziry, di mana Abu Dhabi sedang dipromosikan bukan hanya berdasarkan satu atraksi utama, tetapi sebagai tujuan yang menawarkan berbagai alasan untuk dikunjungi sepanjang tahun.
Budaya tetap menjadi fokus utama. Louvre Abu Dhabi menjadikan Saadiyat Island destination internasional untuk seni, sementara Zayed National Museum, teamLab Phenomena Abu Dhabi, dan Natural History Museum Abu Dhabi menjadi bagian dari distrik budaya Saadiyat yang semakin kaya.
Tetapi, strategi ini tidak berhenti di situ. Yas Island menawarkan atraksi keluarga yang kuat, dan acara seperti Abu Dhabi Grand Prix, UFC, dan NBA Games menarik perhatian global. Kalender Abu Dhabi menggabungkan acara internasional ini dengan konser, komedi, teater, pameran, dan festival budaya lokal.
DCT Abu Dhabi juga berupaya mengajak pengunjung menjelajahi lebih dari sekadar ibu kota, mengembangkan potensi pariwisata Al Ain dan Al Dhafra melalui warisan, pemandangan, oasis, festival, dan pengalaman luar ruangan.
Dalam tahun 2024, DCT Abu Dhabi mencatat lebih dari 5,5 juta pengunjung ke situs budaya, perpustakaan, dan museum. Lebih dari 1,8 juta orang menghadiri acara budaya besar, sementara Louvre Abu Dhabi mencetak rekor dengan 1,4 juta pengunjung.
Al Geziry juga berkontribusi dalam menjadikan kuliner pusat identitas destinasi Abu Dhabi. Dengan hadirnya Michelin Guide, dana investasi kuliner AED 100 juta, dan kemitraan bersama koki ternama, gastronomi pun mendapat peran strategis dalam ekonomi pariwisata. Peluncuran studio kuliner École Ducasse semakin menghubungkan pertumbuhan pariwisata dengan pengembangan profesional dan kapabilitas lokal.
Pariwisata bisnis juga berkembang seiring waktu. Abu Dhabi Convention and Exhibition Bureau memperkenalkan dana dan kemitraan baru untuk menarik konferensi, pameran, dan kelompok insentif besar.
Di tahun 2025, emirate ini menggelar 5.925 acara bisnis, termasuk 23 mega-acara, yang mendatangkan lebih dari dua juta delegasi dan melampaui target pengunjung MICE sebesar 18 persen.
Distribusi dan konektivitas internasional juga menjadi prioritas. DCT Abu Dhabi terus memperluas jaringan ke pasar global sambil membangun kemitraan bertahun-tahun dengan platform perjalanan besar seperti Expedia Group dan Trip.com Group.
Kemitraan ini memungkinkan Abu Dhabi untuk menyandingkan peningkatan merek dengan kampanye pemasaran yang lebih tertarget dan berbasis data. Mereka juga mendukung kerja sama emirate dengan Etihad Airways dalam mengubah konektivitas penerbangan menjadi masa tinggal yang lebih lama dan pengeluaran yang lebih tinggi dari pengunjung.
Salah satu contoh evolusi adalah program stopover Etihad, yang memudahkan penumpang yang transit di Abu Dhabi untuk menjelajahi emirate ini, mengubah lalu lintas penghubung menjadi permintaan pariwisata.
Teknologi juga semakin penting. Selama tahun 2025, DCT Abu Dhabi meluncurkan lebih dari 23 inisiatif kecerdasan buatan. Salah satunya adalah concierge digital yang melayani tamu di lebih dari 80 hotel, membantu memberikan pengalaman yang lebih personal.
Di saat yang sama, pedoman klasifikasi hotel, pedoman pengalaman pengunjung, serta inisiatif tenaga kerja terus menunjukkan bahwa pertumbuhan harus diimbangi dengan investasi dalam standar, keterampilan, dan kepemimpinan Emirati.
Ini mungkin adalah karakteristik mendefinisikan dari kerja Al Geziry di Abu Dhabi. Ia memandang pariwisata sebagai sistem ekonomi yang saling terhubung, bukan sekadar fungsi pemasaran.
Atraksi menciptakan permintaan, namun konektivitas yang mengubahnya menjadi kunjungan. Acara menarik pengunjung, tetapi standar perhotelan menentukan siapa yang kembali. Kampanye internasional meningkatkan kesadaran, tetapi pengalaman otentik Emirati membedakan destinasi ini. Teknologi bisa memperbaiki layanan, tetapi manusia tetap yang menghadirkan keramahan.
Dalam menilai kemajuan DCT Abu Dhabi, Al Geziry menyatakan bahwa organisasi ini telah “memperdalam kemitraan strategis baik di dalam maupun luar negeri” sambil memperluas tawaran budaya, hiburan, dan kuliner emirate ini.
Ekspansi tersebut kini mulai membuahkan hasil yang terukur. Abu Dhabi menyambut 5,9 juta tamu hotel pada tahun 2025, dengan pengunjung internasional mencatat pertumbuhan dua digit. Tarif hotel rata-rata meningkat 19 persen menjadi AED 591, sementara pemasaran pariwisata yang ditargetkan diperluas ke 25 pasar internasional.
Pengakuan Forbes Middle East ini jelas lebih dari sekadar pertumbuhan pengunjung dalam satu tahun. Karier Al Geziry mencerminkan evolusi pariwisata di UEA. Ia memulai dengan membawa Dubai ke panggung dunia melalui misi perdagangan, melanjutkan untuk menciptakan tempat-tempat yang diinginkan orang untuk dikunjungi di Meraas, dan di Ajman, ia menunjukkan bagaimana tujuan yang lebih kecil dapat membangun identitasnya sendiri.
Di Abu Dhabi, semua pelajaran itu terkumpul dalam skala yang jauh lebih besar. Ambisinya bukan cuma untuk menarik 39,3 juta pengunjung, melainkan membangun ekonomi pariwisata yang mampu menciptakan pekerjaan, menarik investasi, memperkuat identitas nasional, serta membagikan keramahan Emirati kepada dunia tanpa kehilangan ciri khas yang membuatnya berbeda.
Keseimbangan antara ambisi global dan identitas lokal ini akan menentukan kesuksesan jangka panjang Abu Dhabi.
Saleh Al Geziry telah menghabiskan lebih dari dua dekade untuk mempersiapkan tantangan ini. Pengakuan terbarunya mencerminkan seberapa jauh Abu Dhabi telah melangkah dan betapa besarnya perjalanan yang masih harus ditempuh.

