Pekan lalu, di acara World Aviation Festival, seorang analis penerbangan yang cukup terkenal, John Strickland, memberikan wawasan yang menarik tentang masa depan industri penerbangan. Menurutnya, maskapai di Eropa dan AS mungkin harus memangkas lebih banyak frekuensi penerbangan dan bahkan mungkin lebih banyak pesawat yang berada di tanah musim dingin ini akibat naiknya biaya bahan bakar yang sangat tinggi.
Strickland, yang memimpin JLS Consulting, berbicara tentang bagaimana industri penerbangan dapat menghadapi krisis bahan bakar jet yang sedang berlangsung ini. Ia menjelaskan bahwa, meskipun maskapai berusaha menurunkan harga untuk meningkatkan permintaan, tetap saja mereka tidak akan mampu menutupi biaya tinggi dari bahan bakar. “Kita akan melihat lebih banyak pesawat yang terpaksa menganggur sebagai akibatnya,” ujarnya.
Setiap musim dingin, maskapai biasanya memangkas jumlah penerbangan karena permintaan yang lemah, yang seringkali menyebabkan mereka memiliki kapasitas berlebih. Selain itu, mereka juga biasanya menawarkan tarif yang lebih rendah untuk menarik pelanggan. Namun, kali ini Strickland memperingatkan, biaya bahan bakar yang tinggi membuat pengebonan penerbangan yang merugikan menjadi sulit untuk dibenarkan.
“Saya rasa musim dingin ini kita akan melihat tingkat pembatalan yang lebih tinggi,” tambahnya. “Saya tidak melihat maskapai secara tiba-tiba memangkas harga dengan drastis untuk menarik lebih banyak penumpang.”
Ia juga menekankan bahwa beberapa pasar dan kelas kabin mengalami lonjakan harga yang lebih tinggi dibandingkan yang lain, sementara dampak bagi setiap maskapai tergantung pada strategi lindung nilai mereka dan kemampuan untuk meneruskan biaya tambahan kepada penumpang.
Ini semua terjadi di tengah ramalan dari International Air Transport Association (IATA) yang menyebutkan bahwa biaya bahan bakar mungkin akan meningkat hampir 40% hingga mencapai $350 miliar pada tahun 2026, di mana biaya bahan bakar ditaksir menyumbang 31,4% dari total pengeluaran operasional.
Meski ada tekanan itu, Strickland mencatat bahwa maskapai-maskapai sejauh ini berhasil mencegah krisis ini dari berkembang menjadi keruntuhan pasokan yang segera, yang semula dikhawatirkan oleh banyak orang. Banyak maskapai yang berhasil menemukan sumber bahan bakar alternatif atau menggunakan strategi lindung nilai untuk melindungi diri dari lonjakan harga jangka pendek yang penuh risiko.
Sampai saat ini, menurut Strickland, jumlah penerbangan yang dibatalkan masih tergolong relatif kecil. Namun, dia berharap keputusan ini akan menjadi lebih sulit seiring berjalannya waktu ketika industri melampaui periode puncak musim panas. Maskapai terus-menerus menilai tingkat pemesanan dan kinerja setiap rute untuk menentukan frekuensi mana yang masih layak untuk dioperasikan.
John Strickland akan melanjutkan diskusinya di World Aviation Festival yang akan berlangsung dari 13 hingga 15 Oktober 2026 di FIL, Lisbon. Selain mewawancarai beberapa CEO maskapai di panggung, ia juga akan memoderatori panel bertajuk “Driving the Aviation Growth of Tomorrow” yang menghadirkan CEO dari beberapa maskapai ternama seperti Flair Airlines, Allegiant, Norse Atlantic Airways, dan beOnd.
Berita ini tentu menjadi perhatian penting bagi semua penggemar dunia penerbangan dan wisata. Dengan berbagai tantangan yang dihadapi industri, tentunya semua orang akan menanti langkah-langkah yang akan diambil oleh maskapai ke depannya.

