Saat bunga sakura menandai datangnya musim semi, pecinta teh pun menantikan kehadiran shincha (teh baru) di rak-rak toko. Ini adalah panen teh pertama di tahun ini, dan shincha bisa ditemukan mulai dari merek terjangkau di supermarket lokal hingga toko spesialis dengan sejarah ratusan tahun.
Memasuki musim semi, gyokuro (teh hijau halus) menjadi primadona. Juga dikenal sebagai embun jade, gyokuro punya cara pengolahan, rasa, dan harga yang unik, sehingga dikenal sebagai teh hijau berkualitas tinggi.
Asal-Usul Gyokuro
Didirikan di Nihonbashi pada tahun 1690, perusahaan Yamamoto-yama berperan penting dalam penciptaan teh “gyokuro”. Gambar: 事前登録受付中 / CC BY-SA 4.0
Teh pertama kali datang ke Jepang dari China pada abad ke-9, tetapi pada awalnya tidak menarik perhatian banyak orang di luar kalangan istana. Di akhir abad ke-12, seorang biarawan Zen bernama Eisai membawa benih teh dari China dan menanamnya di utara Kyushu serta sekitar Kyoto. Selama berabad-abad, teh menjadi bagian penting dari budaya Jepang, terutama dalam upacara teh tradisional.
Asal-usul gyokuro bisa ditelusuri kembali ke tahun 1835. Saat berkeliling di perkebunan di Uji, kepala perusahaan teh terkemuka Yamamoto-yama, Kahei Yamamoto, melihat tanaman teh yang diarsir oleh petani lokal. Saat dikeringkan, daun tersebut membentuk bentuk melengkung dan memiliki rasa manis. Dia memberi nama kreasi baru ini gyokuro untuk mencerminkan penampilannya yang unik dan rasa yang elegan.
Yamamoto membawanya kembali ke tokonya di Edo, dan teh ini segera menarik perhatian. Gyokuro menjadi sangat populer, menjembatani antara sencha yang dikonsumsi oleh masyarakat umum dan matcha yang dicari oleh kalangan elit.
Proses Budidaya Gyokuro
Daun gyokuro diarsir dengan hati-hati untuk memaksimalkan rasa. Gambar: nob2020 / Pixta
Kunci dari status gyokuro sebagai salah satu teh berkualitas tertinggi di Jepang ada pada proses budidayanya. dibandingkan dengan teh hijau lainnya, proses ini memerlukan lebih banyak tenaga dan persiapan untuk menghasilkan secangkir teh yang halus dan penuh rasa.
Berbeda dengan kebanyakan daun teh sencha yang terpapar sinar matahari selama proses budidaya, daun gyokuro malah diarsir sekitar 20 hari sebelum dipetik, tepat saat daun baru mulai tumbuh. Biasanya, petani menggunakan penutup hitam sintetis yang mengontrol suhu untuk memblokir cahaya, meskipun beberapa masih menggunakan metode tradisional dengan serat jerami alami. Metode ini mengurangi paparan cahaya hingga 70-90% dibandingkan dengan sinar matahari langsung.
Proses budidaya yang teliti ini membuat gyokuro memiliki warna hijau zamrud yang khas serta profil rasa yang unik, sekaligus menjadikannya salah satu jenis teh Jepang yang paling dihargai dan mahal.
Rasa dan Karakteristik Unik Gyokuro
Warna gyokuro yang kaya berasal dari kandungan klorofil yang tinggi. Gambar: warat42 / iStock
Saat melihat secangkir gyokuro, salah satu hal pertama yang akan menarik perhatian adalah warna hijau yang intens. Ini bukan kebetulan; warna ini adalah respons langsung dari pilihan para petani teh. Ketika daun teh dilindungi dari cahaya, mereka mengubah senyawa kimia mereka dengan meningkatkan produksi klorofil untuk menyerap cahaya yang lebih sedikit. Saat diproses menjadi teh, tingginya kandungan klorofil inilah yang memberikan warna hijau tua yang indah dan khas pada gyokuro.
Gyokuro juga dihargai karena rasa manis dan mendalnya, dengan tingkat astringensi terendah di antara semua teh hijau Jepang. Rasa ini muncul dari proses budidaya yang sama. Dua asam amino penting dalam teh adalah katekin, yang memiliki rasa astringent yang kuat, dan L-theanine, yang memberikan rasa kaya. Ketika tanaman terpapar cahaya, L-theanine diubah menjadi katekin melalui fotosintesis. Namun, ketika daunnya diarsir, perubahan ini terhambat, sehingga lebih banyak L-theanine yang dipertahankan, mengurangi astringensi yang sering ditemukan pada teh hijau lainnya.
Teh ini juga memiliki aroma unik yang dikenal dalam bahasa Jepang sebagai ooika (aroma daun yang diarsir). Aroma ini sering dibandingkan dengan rumput laut nori, aonori (rumput laut kering hijau) atau kaldu dashi. Aroma alami yang berasal dari daun gyokuro ini muncul kembali dari penghalangan cahaya dan semakin kuat aromanya, semakin baik kualitas teh. Warna, rasa, dan aroma gyokuro bergabung untuk menciptakan secangkir teh yang sangat mengesankan.
Di Mana Menemukan Gyokuro
Sebuah ladang teh di Uji, Kyoto dengan daun teh yang diarsir. Gambar: dtgw60 / Pixta
Gyokuro dibudidayakan di tiga daerah utama di Jepang.
Kyoto (Uji)
Gyokuro yang berasal dari Kyoto memiliki sejarah terpanjang, dengan Uji Gyokuro dikenal secara global. Sebagai pelopor dalam proses pengarsiran daun teh, dan satu-satunya produsen resmi gyokuro di era Edo, teh ini dianggap memiliki kualitas yang sangat tinggi.
Fukuoka (Yame)
Gyokuro dari Yame di Prefektur Fukuoka dikenal memiliki kualitas yang sangat tinggi dan sering meraih penghargaan baik domestik maupun internasional. Gyokuro Yame diarsir dengan serat alami dan hanya daun teratas yang dipetik dengan tangan. Rasanya manis dan berlemak dengan basis yang kuat dan beraroma.
Shizuoka (Asahina)
Gyokuro Shizuoka berasal dari Asahina di mana daunnya juga dipetik secara manual dan diarsir menggunakan jerami dan jaring. Teh ini dikenal menyegarkan dengan aroma yang menarik, dihasilkan dari varietas unik Shizuoka, yaitu semak teh Gokoh.
Teh Serupa untuk Dicoba
Kabusecha memiliki profil rasa yang mirip dengan gyokuro tetapi dengan harga yang lebih terjangkau. Gambar: Hirotama / Pixta
Teh hijau paling nikmat di musim semi dan gugur. Berikut dua jenis shincha lainnya yang pantas dicoba di Jepang jika kamu menyukai rasa dan warna gyokuro yang kaya.
- Kabusecha
Teh hijau yang daunnya diarsir seperti gyokuro, namun hanya sekitar satu minggu, bukan tiga minggu. Rasanya lebih segar, tetapi tetap mempertahankan kekayaan dan cita rasa gyokuro. - Fukamushicha
Teh hijau yang daunnya dikukus lebih lama daripada sencha, menghasilkan teh yang lebih lembut dengan warna yang kaya.
