Dalam dunia perjalanan yang terus berkembang, Timeshifter muncul sebagai inovator di bidang teknologi sirkadian. Terbaru, aplikasi ini menjadi sorotan dalam daftar Bright Ideas in Travel 2026 dari Condé Nast Traveler. Bagi banyak pelancong, bangku bisnis dan kelas satu sering kali menjadi objek impian saat melangkah ke bagian belakang pesawat. Siapa yang tidak berharap bisa bersantai dan beristirahat dengan nyaman? Tapi, kami pasti tahu jika jet lag itu lebih kompleks dari sekedar kurang tidur.
“Semua yang dibagikan saat ini tentang cara mengatasi jet lag itu salah,” ungkap Mickey Beyer-Clausen, co-founder dan CEO Timeshifter. Perusahaan ini berfokus pada teknologi sirkadian yang membantu pelancong dan pekerja shift menyesuaikan diri dengan zona waktu baru dan jadwal yang tidak teratur. “Tantangan terbesar adalah fakta bahwa ilmu sirkadian belum banyak diketahui publik,” lanjutnya.
Timeshifter berkomitmen untuk mengubah pemahaman publik tentang cara kerja sirkadian. Pada dasarnya, otak kita memiliki “jam internal”, sebuah kumpulan neuron bernama suprachiasmatic nucleus, yang lebih kecil dari sebutir beras. Jam ini mengatur siklus harian tidur dan kewaspadaan tubuh kita—yang kita sebut ritme sirkadian. “Apa yang kita bicarakan adalah waktu internal,” jelas Martha Merrow, seorang ahli chronobiology dari Universitas Oxford. Dia menjelaskan bahwa setiap orang memiliki waktu internal yang unik, dan dua orang dengan jadwal yang sama bisa saja memiliki waktu internal yang berbeda karena berbagai faktor, seperti ‘chronotype’—apakah seseorang lebih suka bangun pagi atau malam.
Setiap kali kita terbang melintasi beberapa zona waktu, jam internal kita bisa tidak sejalan dengan waktu di tujuan. Ketidakcocokan ini lah yang dikenal sebagai jet lag. Sayangnya, banyak saran konvensional tentang jet lag tidak menyentuh mekanisme kunci untuk membantu jam internal beradaptasi. Intinya, semuanya tentang cahaya, dan tidur hanya peran pendukung.
“Tidur berperan dalam dua cara,” jelas Merrow. “Pertama, jika kamu tidak cukup tidur, rasanya benar-benar tidak enak. Tapi cara kedua adalah saat tidur, kamu sebenarnya aktif memodifikasi lingkungan pencahayaanmu dengan menutup mata. Jadi, dengan tidur di ‘waktu yang tepat’ atau ‘waktu yang salah’, kamu bisa membantu atau justru menghambat pergeseran fase yang ingin kamu capai.” Paparan cahaya adalah faktor utama yang membantu ritme internal kita beradaptasi dengan lingkungan baru, menurutnya.
Itu sebabnya tidur di pesawat tidak selalu membantu; terkadang malah bisa mengubah ritme sirkadian ke arah yang “salah.” “Kamu bisa tidur selama delapan jam dan tetap merasakan jet lag yang parah karena semua jam sirkadianmu tidak sinkron,” ungkap Beyer-Clausen. Solusinya adalah memahami waktu yang tepat untuk paparan cahaya, kegelapan, dan tidur. “Ini harus dipersonalisasi untuk setiap pelancong,” katanya.
Itulah mengapa aplikasi jet lag Timeshifter meminta informasi tentang usiamu, jam tidur biasanya, kebiasaan kafein dan melatonin, serta chronotype-mu—apakah kamu tipe pagi, malam, atau biasa saja. Setelah itu, kamu masukkan nomor penerbangan, dan aplikasi akan menarik informasi mengenai waktu keberangkatan dan kedatanganmu. Dengan semua informasi tersebut, algoritma aplikasi akan merumuskan rencana yang dimulai beberapa hari sebelum keberangkatan. Aplikasi ini memberi tahu kapan kamu perlu terpapar cahaya atau menghindarinya; kapan harus menggunakan atau menghindari kafein; dan kapan sebaiknya tidur (termasuk mengonsumsi melatonin, jika kamu mau).
“Kamu bisa tidur selama delapan jam dan merasakan jet lag yang sangat parah karena semua jam sirkadianmu tidak sinkron.”
Mickey Beyer-Clausen, co-founder dan CEO Timeshifter
Dengan pendekatan yang cerdas dan data yang dipersonalisasi, Timeshifter benar-benar mengubah cara kita bereaksi terhadap perjalanan lintas zona waktu. Kini, bukan hanya soal berapa lama kita bisa tidur di pesawat, tetapi bagaimana menyesuaikan paparan cahaya dengan siklus tubuh kita. Ini adalah langkah besar menuju pengalaman perjalanan yang lebih mulus dan bisa bikin kita merasa segar saat tiba di tempat baru.
Jadi, siap untuk melakukan perjalanan berikutnya tanpa rasa jet lag yang berat? Dengan bantuan Timeshifter, kini ada harapan baru untuk semua pelancong yang mendambakan perjalanan yang lebih nyaman dan menyenangkan. Perjalanan yang membawa bukan hanya ke tempat baru, tetapi juga ke pengalaman yang lebih baik!

