Dalam obrolan seru ini, Julieta Venegas membagikan kisah dan inspirasi dari album terbarunya yang dipengaruhi oleh pengalaman masa kecilnya di kota perbatasan. Yuk, simak lebih lanjut tentang bagaimana hidup di Tijuana membentuk pandangannya.
Apa yang menginspirasi album terakhirmu?
Waktu itu aku tinggal di Buenos Aires dan rasanya sangat merindukan rumah. Semuanya bermula ketika saudariku yang seorang fotografer, sedang mengerjakan proyek tentang sebuah kota bernama Santa Rosalia di Baja California, dan tentang kakekku. Ketika dia masih sangat muda, sekitar usia 10 tahun, keluarganya meninggal di Santa Rosalia akibat siklon.
Memori itu selalu ada di dalam keluarga kami, dan proyek saudariku jadi cara untuk menyembuhkan luka. Kakekku akhirnya memiliki banyak anak, meski hidupnya tidak terlalu panjang, dia menjadi inspirasi. Proyek saudariku memicu minatku tentang Baja California dan juga Tijuana. Aku mulai membaca banyak tentang sejarah, puisi, dan novel dari penulis Tijuana. Aku menggali tema tentang merindukan seseorang, menyeberangi batas, dan pergi ke sisi lain. Rasanya sangat berkaitan dengan perpisahan karena kita tinggal di tempat yang berbeda, yang dalam bahasa Spanyol disebut añoranza.
Merindukan seseorang terasa seperti fitur utama hidup di kota perbatasan, terutama di Tijuana. Bagaimana masa kecil di perbatasan membentuk kehidupan dan karya kamu?
Keluarga kami adalah keluarga perbatasan, jadi hubungan kami dengan hal itu sangatlah nyata setiap hari. Namun, berbeda ketika kita memiliki kemungkinan untuk menyeberang atau tidak. Dalam keluarga kami, kami selalu memiliki kemungkinan itu. Ada hal-hal yang kamu pilih untuk diambil dari setiap sisi, dan dalam hal kebudayaan, itu sangat menarik. Aku tumbuh bilingual karena banyak menonton TV saat kecil—tentu saja, sebelum ayahku mengambilnya.
Di keluargaku, Meksiko adalah pusat dari segala diskusi. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, kami memiliki AS di samping kami. Kami mendengarkan radio Amerika dan pergi ke supermarket di AS setiap kali membutuhkan sesuatu. Tapi ada kontras besar yang langsung terlihat begitu menyeberangi batas, bahkan dari cara jalan-jalan di Tijuana dirancang. Tijuana adalah kota yang dibangun dari kebutuhan lebih daripada desain. Kota ini dibangun sesuai kebutuhan orang-orang, dan setiap sudutnya penting.
Tijuana selalu punya cara menarik untuk menyatukan budaya yang berbeda. Mulai dari banyaknya makanan enak yang menggabungkan tradisi Meksiko dan AS, sampe tempat-tempat yang merangkum vibe kota yang hidup. Misalnya, pasar makanan yang selalu ramai, di mana kamu bisa menemukan taco enak yang “bisa bikin kamu kembali lagi.” Dan jangan lupakan seni jalanan yang menggemaskan, penuh warna dan cerita kehidupan masyarakat di sana.
Proses kreatifnya juga sangat mempengaruhi pandangannya. Keberadaan perbatasan bukan hanya sekadar lokasi, tetapi lebih kepada pengalaman emosional—betapa sulitnya merindukan orang tercinta ketika jarak jadi penghalang, dan betapa indahnya ketika kesempatan untuk bertemu dengan mereka datang. Lagu-lagitanya sering berisi kisah cinta yang rumit dan merindukan orang-orang yang harus ditinggalkan.
Keberadaan Tijuana dalam musik Venegas adalah pengingat bahwa tempat tinggal kita bukan hanya lokasi fisik, tetapi juga bagian dari identitas kita. Dan musiknya adalah cara dia merayakan, sekaligus mengingat, semua pengalaman yang membentuk siapa dirinya.
Mendengarkan lagu-lagu Julieta Venegas menjadi lebih dari sekadar perjalanan mendengar, tapi juga menelusuri perjalanan hidupnya yang penuh rasa. Siapa pun yang bilang musik tidak bisa menjadi jembatan emosional, sepertinya belum mendengar lagu-lagu dari seorang Julieta.
Mendalami cerita di balik lagu-lagu dan bagaimana hidup di sebuah kota yang berada di pinggir dua budaya ini, memberi kita cara baru untuk memahami kehidupan dan cinta. Bagi banyak orang, Tijuana bukan hanya sekadar lokasi fisik, tapi juga bagian dari jiwa dan semangat yang berkaitan dengan kerinduan dan harapan.

