Perjalanan pekerjaan bisa jadi pengalaman yang seru dan sekaligus menyedihkan, terutama bagi orangtua. Banyak yang mengalami dilema antara tuntutan usaha dan rasa rindu kepada anak. Bagi yang sering bepergian, seperti satu penulis yang menghabiskan empat hingga enam bulan setiap tahun untuk kerja, rindu itu bisa menjadi beban yang berat—apalagi saat anak sudah mulai beraksi penuh emosi. Misalnya, ketika si bocah Julian yang berumur empat tahun, yang kerap menghubungi lewat FaceTime dan mengungkapkan kerinduan yang tulus. “I miss you when you travel, Mommy,” ungkapnya dengan nada sedih. Dalam hal ini, banyak yang berupaya membuat perjalanan terasa lebih mudah bagi anak-anak, walaupun sebenarnya, perasaannya tetap menyakitkan.
Walaupun tidak ada solusi instan untuk mengatasi rasa sakit yang muncul saat harus meninggalkan anak, banyak orangtua menemukan kebiasaan kecil yang dapat membantu. Seperti menulis catatan dari hotel atau memberikan ciuman sebelum berangkat. Praktik-praktik manis ini bukan hanya membantu anak memegang sesuatu yang bisa mengingatkan mereka pada orangtuanya, tetapi juga memberi orangtua cara untuk tetap terhubung meski jarak memisahkan.
Dalam sebuah wawancara dengan orangtua yang sering bepergian untuk pekerjaan, banyak di antara mereka yang membagikan cara unik untuk mengurangi kecemasan anak saat harus berpisah. Berikut ini adalah beberapa ritual yang bisa mengubah perjalanan kerja menjadi sesuatu yang lebih menyentuh hati.
Buat Perpisahan Menjadi Nyata
Kecemasan menjelang perjalanan kerja sering kali mulai terasa sebelum koper ditutup rapat. Oleh karena itu, beberapa orangtua berusaha mewujudkan perpisahan jadi lebih konkret. Contohnya, Angela Cowley, seorang managing director asal Sydney dan ibu dari empat orang anak, yang sering bepergian baik dalam negeri maupun keluar negeri. Sebelum setiap perjalanannya, anak sulungnya, Georgia, membantu mengemas barang, memilih satu aksesori untuk dikenakan Cowley setiap hari dia pergi, seperti gelang, jam tangan, atau anting. Tradisi ini dimulai sebelum perjalanan 10 hari ke Singapura dan sekarang jadi cara bagi Georgia untuk merasa terlibat dalam pengalaman tersebut.
Monika Sundem, CEO Adventure Life yang berbasis di Montana dan juga ibu dari empat anak, menciptakan ritual yang lebih terstruktur sebelum perjalanan ke Antartika, ketika dia tahu bahwa cek kondisi secara biasa tidak mungkin dilakukan. Dia menyiapkan amplop bernomor yang disimpan dalam kotak sepatu di meja anak-anaknya, satu untuk setiap hari dia pergi. Beberapa amplop berisi catatan, sementara yang lain dipenuhi dengan camilan, mainan, gambar lucu, atau instruksi seperti, “Ceritakan kepada Ayah, ini untuk es krim setelah sekolah.” Menurut Sundem, ritual sederhana ini sangat membantu mengurangi kecemasan perpisahan, terutama bagi putri bungsunya.
Gimana, kan? Membuat momen-momen kecil seperti ini bukan hanya bikin anak-anak merasa lebih terlibat, tapi juga memberi mereka harapan dan pelukan yang bisa mereka ingat saat kita jauh dari rumah. Dengan kata lain, perjalanan kerja jadi lebih dari sekadar tugas; ia menjadi pengalaman yang bisa dihayati bersama, meski dalam jarak yang jauh.
Jadi, bagi orangtua yang sering terpaksa meninggalkan anak untuk bekerja, mengintegrasikan ritual atau kebiasaan kecil ini bisa jadi cara yang ampuh untuk mengurangi rasa sakit dari perpisahan. Siapa tahu, dengan cara-cara tersebut, anak-anak bisa merasa lebih dekat dan mengerti kenapa orangtua mereka harus pergi.

