Di balik kesibukan Museum Cup Noodles yang terkenal di Yokohama, ada satu tempat menarik yang sering terlewatkan oleh panduan perjalanan, yaitu Museum Migrasi Jepang. Museum ini menyimpan cerita-cerita penting dari para imigran Jepang yang berangkat dari pelabuhan Yokohama pada abad ke-19 dan ke-20 menuju pulau-pulau Hawaii, Brasil, Amerika Serikat, dan tempat-tempat lainnya. Dengan berbagai pameran yang disajikan dalam banyak bahasa, pengunjung bisa menjelajahi alasan di balik kepergian para imigran Jepang dan pengalaman mereka setelah tiba di negara baru.
Walau lokasinya cukup strategis, museum ini cenderung sepi dan gratis untuk dimasuki. Bagi yang ingin mampir sebentar atau menghabiskan beberapa jam terbenam dalam sejarah, ada wawasan baru seputar Jepang dan arti menjadi orang Jepang menunggu untuk ditemukan.
Menuju ke sana: Jam buka, akses, dan atraksi sekitar
JICA Yokohama Center didirikan pada tahun 2002 dan kini menampung berbagai fasilitas, termasuk Museum Migrasi Jepang. Image: jookoo3 / Pixta
Museum Migrasi Jepang berlokasi di distrik Minato Mirai 21, tepatnya di lantai dua JICA Yokohama Center. Bagi pengunjung dari stasiun Yokohama, langkah pertamanya adalah naik kereta di Jalur Minatomirai menuju stasiun Bashamichi atau Minatomirai. Dari situ, museum bisa dijangkau dengan berjalan kaki selama kurang lebih 15 menit. Bagi yang berangkat dari stasiun Tokyo, kereta langsung menuju stasiun Sakuragicho juga hanya berjarak 15 menit berjalan kaki dari museum.
Museum ini buka setiap hari dari jam 10 pagi hingga 6 sore, kecuali hari Senin (atau hari Selasa setelah hari libur yang jatuh pada hari Senin). Tas dan barang bawaan besar bisa disimpan sementara di meja resepsionis museum atau di loker koin kecil di dekat pintu masuk (persiapkan koin ¥100 untuk menggunakannya).
Setelah atau sebelum mengunjungi museum, ada banyak hal seru yang bisa dilakukan di area Minato Mirai, seperti menaiki salah satu bianglala tertinggi di dunia di Yokohama Cosmo World atau menjelajahi sejarah maritim lokal di Museum Pelabuhan Yokohama.
Apa yang ada di dalam: Pameran, panduan audio, dan spot foto
Beberapa pameran di museum migrasi ini interaktif dan memungkinkan pengunjung mengambil foto, tetapi ada juga yang tidak boleh disentuh atau difoto. Jadi, perhatikan tanda-tanda di sekitar pameran. Image: Laura Payne
Pameran permanen di museum ini secara umum terbagi menjadi tiga bagian: sejarah terkait lima masa migrasi (sementara dan permanen), kehidupan sehari-hari dalam komunitas Jepang di seluruh dunia, serta perspektif dari keturunan imigran abad ke-21. Salah satu sorotan pameran adalah wawancara video dengan orang-orang yang menyaksikan sejarah yang dipamerkan pada berbagai waktu dan negara. Beberapa narasumber termasuk tokoh terkenal seperti aktor “Star Trek”, George Takei, yang sudah mengadakan acara di museum ini sebelumnya.
Kebanyakan penjelasan di museum ditulis dalam bahasa Jepang dan Inggris, tetapi beberapa sumber berbahasa Spanyol dan Portugis juga tersedia. Pengunjung bisa menggunakan smartphone atau tablet pribadi untuk mengakses panduan audio, jadi tidak ada salahnya membawa earphone dan perangkat dengan daya baterai yang cukup. Panduan audio untuk anak-anak juga tersedia.
Meski foto tidak diperbolehkan di beberapa bagian museum, pengunjung tetap harus siap dengan kamera mereka. Area tertentu dalam pameran permanen memungkinkan pengunjung berfoto dengan instalasi yang terinspirasi dari pengaturan sejarah nyata. Dengan angle yang tepat, pengunjung bisa berpose seolah-olah adalah pelanggan di Toko Saudara Yasui (sebuah toko umum yorozuya yang beroperasi dari tahun 1908 hingga 1942 di Hood River, Oregon) atau menebang pohon di Koloni Aliança di Brasil.
Sebuah ruang referensi menyimpan lebih banyak informasi terkait migrasi dari Jepang ke luar negeri. Tempat ini buka dari hari Selasa hingga Sabtu, dari jam 10 pagi sampai 6 sore. Image: Laura Payne
Jangan lupa membawa buku catatan untuk mengumpulkan stempel peringatan. Museum ini memiliki empat desain stempel yang berbeda, tetapi hanya dua yang tersedia setiap minggu. Desain mana pun yang bisa dijumpai pengunjung akan menjadi souvenir ringan yang unik.
Pameran khusus di museum (yang diadakan sekitar dua atau tiga kali setahun) menambah lapisan keunikan dalam setiap kunjungan. Pameran khusus sebelumnya termasuk galeri seni oleh pelukis keturunan Jepang dan pameran keliling yang membahas pengalaman orang Jepang-Canadian selama Perang Dunia II.
Lama waktu yang dibutuhkan pengunjung untuk menjelajahi Museum Migrasi Jepang bervariasi tergantung seberapa teliti mereka ingin melihat pameran. Jika hanya ingin berjalan cepat, mungkin butuh sekitar satu jam. Namun, jika ingin membaca dan menonton semua materi yang ada, bisa memakan waktu sekitar tiga jam.
Makanan, istirahat, dan seni di JICA Yokohama Center
Seni yang ditampilkan di seluruh JICA Yokohama Center diciptakan oleh anggota diaspora Jepang. Image: Laura Payne
Tidak hanya museum migrasi, ada banyak pengalaman menarik lainnya di dalam JICA Yokohama Center. Di luar pintu masuk museum, ada area istirahat yang dihias dengan patung pohon dan hewan serta mural berukuran besar. Karya seni ini terinspirasi oleh pemandangan di komunitas Jepang di seluruh dunia dan dirancang untuk interaktif. Pengunjung bisa mewarnai bagian mural (alat tulis tersedia di lokasi) atau menggantung pesan tulisan tangan di patung pohon. Salinan kertas mural juga tersedia bagi pengunjung yang ingin mewarnai souvenir mereka sendiri.
Port Terrace Cafe yang terletak di lantai tiga JICA Yokohama Center menyajikan makanan dan minuman dengan pemandangan pelabuhan dan pemandangan kota yang indah. Selain menu reguler (termasuk pilihan vegetarian dan halal), pengunjung juga bisa menikmati sajian spesial yang terinspirasi dari hidangan internasional.
Port Terrace Cafe biasanya buka setiap hari untuk makan siang (jam 11:30 hingga 14:00) dan makan malam (jam 17:30 hingga 21:00). Snack dan hidangan ringan tersedia dari jam 14:00 hingga 17:00 pada hari Sabtu, Minggu, dan hari libur. Tempat duduk di taman luar tersedia, tetapi hanya untuk pelanggan restoran. Pembayaran hanya bisa menggunakan uang tunai atau kartu IC transportasi.
Lebih banyak untuk dijelajahi: Museum migrasi Jepang lainnya di luar Yokohama
Banyak imigran yang berangkat dari Kobe menetap di Amerika Selatan. Kobe Center for Overseas Migration and Cultural Interaction menjelaskan lebih lanjut tentang hubungan sejarah ini. Image: とんこりり / Pixta
Dimanapun era dan tempatnya, migrasi adalah bagian dari cerita kemanusiaan yang universal. Yokohama mengingatkan pengunjung tentang satu cara Jepang terhubung dengan pengalaman ini. Cerita-cerita lain tentang imigran Jepang bisa ditemukan di Prefektur Hyogo dan Yamaguchi, di Kobe Center for Overseas Migration and Cultural Interaction (yang dulunya adalah penginapan bagi imigran sebelum berangkat) dan Museum Emigrasi Jepang ke Hawaii (reproduksi rumah yang dibangun oleh seseorang yang kembali ke Jepang setelah bertahun-tahun berada di luar negeri).
Ketika cerita tentang migrasi terus berlanjut hingga abad ke-21, penting untuk mengingat mereka yang telah melakukan perjalanan jauh sebelumnya.

