Setelah sekian lama, akhirnya ada momen untuk kembali ke tempat yang penuh kenangan. Terakhir kali berada di kota kecil ini pada 2021, itu adalah saat yang sulit—saat membersihkan rumah lama pasca kepergian suami. Momen itu sempat bikin ragu untuk menginjakkan kaki kembali. Tiba-tiba gelagat baru muncul ketika melihat hotel Hampton Bays yang sedang naik daun. Rasanya menyenangkan melihat kota ini akhirnya diakui, meski berada di antara tetangganya yang lebih glamor seperti East Hampton dan Amagansett. Kayaknya, selama ini tempat ini terlalu tersembunyi dari sorotan, bahkan dari peta-peta Hamptons yang sering muncul di tas dan sweatshirt merek tren. Penasaran juga, bagaimana rasanya menjelajahi rumah lama ini dengan cara baru, seperti seorang pengunjung biasa.
Dante, anak saya, juga setuju untuk menelusuri kembali jejak itu. Mengadopsi kenangan baru bisa jadi cara untuk menyeimbangkan rasa tidak nyaman yang dulu pernah ada. Sepertinya ini bisa jadi momen penyembuhan yang tepat. Sudah lama kita nggak menginjakkan kaki di pantai. Berlari di sepanjang bibir pantai selalu jadi cara yang bikin tenang dan menyegarkan pikiran. Sekalian juga pengin tahu apa yang baru di sekitar sana.
Saya sempat tertarik dengan Shou Sugi Ban House sejak pertama kali dibuka tahun 2018. Tempat ini punya suasana tenang dan tampaknya bukan tempat yang ramah untuk anak-anak, ideal untuk merayakan kebersamaan baru ini. Lewat berkali-kali menuju Southampton Jitney, saya baru sadar bahwa lokasi ini teramat tersembunyi. Bangunan yang terinspirasi dari gudang ini punya dinding kaca yang menghadap ke jalan kerikil, dikelilingi oleh rerumputan tinggi dan pohon-pohon pinus—sebuah microkosmos yang mencerminkan keistimewaan daerah ini. Kami menikmati penginapan di cottage yang sangat nyaman, sebuah kemewahan yang biasanya nggak kita izinkan untuk diri sendiri di masa lalu. Dengan privasi yang lebih, kami berdua bisa menikmati bathtub yang mendalam di kamar mandi masing-masing. Bathtubnya pun unik—yang satu modern berbentuk telur, dan yang satunya lagi terbuat dari kayu hinoki Jepang. Tidur siang atau membaca dengan tenang bisa dilakukan tanpa gangguan.
Pengaturan seperti ini ternyata sangat ideal, memberikan banyak kesempatan untuk beristirahat sekaligus menikmati kebersamaan. Kami mencoba water circuit yang lengkap dengan sauna inframerah dan tiga kolam renang luar yang pastinya nggak mungkin saya lakukan saat Dante masih kecil—dan jelas saat itu pun belum ada minat darinya. Selain itu, kita juga ikut sound bath dan meditasi terpandu dalam kelas kecil berempat. Dalam kegelapan ruangan, suara stik hujan dan gong yang bergetar, saya pun merenungi kehidupan lama sebagai istri muda dan ibu dari anak kecil, sambil merasa penuh syukur bisa merasakan keindahan East End lagi bersama anak saya yang sudah dewasa.
Pengalaman di Shou Sugi Ban House memberikan kesempatan bagi kami untuk merenung, mengingat kembali momen-momen indah yang pernah ada, sekaligus merayakan masa kini. Dari suasana hotel yang tenang hingga aktivitas santai yang menenangkan jiwa, semuanya bikin kami merasa lebih dekat satu sama lain. Dari situ, bisa dibilang, setiap momen di sini adalah pelukan hangat dari kenangan yang tersimpan dalam hati. Dan begitu banyak yang bisa dieksplorasi mulai dari kuliner lokal hingga pemandangan indah yang siap menyapa. Mungkin, ini bukan hanya perjalanan ke tempat lama, tapi juga perjalanan untuk menemukan kembali diri kita sendiri.
Tentu saja ada yang baru dan segar di setiap sudut kota ini. Dengan delapan tahun berlalu sejak kunjungan terakhir kami, rasanya wajar kalau rasa ingin tahu begitu mendalam. Apakah hal-hal kecil seperti cafe favorit masih ada? Atau adakah tempat baru yang bisa ditambahkan ke daftar kunjungan? Kembali ke Hampton Bays bukan sekedar nostalgia, tapi juga peluang untuk memperbarui pengalaman dan hubungan kami. Judul baru dari bab cerita yang kami tulis bersama. Bahwa perjalanan ini bisa jadi awal dari petualangan yang lebih besar, menjalani hari-hari baru dengan keberanian dan semangat menjalani hidup.
