Pengalaman Eurovision dimulai begitu pesawat mendarat di Bandara Internasional Wina. Tidak lama setelah itu, suara pilot mengumumkan kompetisi dalam bahasa Jerman—sorakan menggembirakan dari segerombolan penonton datang dari bagian depan pesawat.
Seperti yang diungkapkan oleh satiris Austria, Karl Kraus, “Jalanan Wina dipenuhi dengan budaya, sementara jalanan kota lain dipenuhi dengan aspal.” Saya jadi bertanya-tanya, bagaimana ya pendapat Beethoven tentang lagu yang akan dibawakan Romania di Eurovision 2026, Choke Me? Rasanya, Beethoven mungkin bakal suka dengan lagu Bangaranga dari Dara, yang mengombinasikan melodi catchy dengan jeda tari yang terinspirasi dari kebudayaan Arab.
Playlist terus berjalan, saya berjalan dengan penuh percaya diri saat mendengarkan Jalla dari Antigoni, perwakilan dari Siprus, yang sudah menghiasi playlist Spotify saya selama berbulan-bulan. Saya seolah dibawa terbang ke superclub saat mendengar dentuman trance dari lagu My System milik Felicia, wakil dari Swedia.
Wina sepertinya baru saja disinari matahari setelah cuaca buruk yang memaksa Eurovision Village di Rathausplatz untuk dievakuasi beberapa hari sebelumnya. Saya melangkah ke jalan untuk petualangan musik yang lebih unik. Begitu keluar dari Hotel Motto, telinga saya disambut oleh versi klasik yang merdu dari Con te partirò oleh Francesco Sartori—lagu yang juga dikenal sebagai Time to Say Goodbye oleh Andrea Bocelli dan Sarah Brightman—berasal dari Mariahilfer Straße, salah satu jalan perbelanjaan terkenal di ibu kota. Saya pun melanjutkan perjalanan menuju Kunsthistorisches Museum, yang dibuka pada tahun 1891 oleh Kaisar Franz Joseph I dan kini menyimpan mahakarya dari seniman legendaris seperti Titian, Rubens, dan Pieter Bruegel.
Suara masterpiece Sartori tersebut terus bergaung di telinga saya hingga saya melihat sesuatu yang mencolok! Sebuah tempat sampah berwarna oranye cerah di Babenbergerstraße menarik perhatian saya. “Schmeiss Like a Phoenix,” tulisnya, sebagai penghormatan untuk lagu pemenang Conchita Wurst di tahun 2015, lengkap dengan logo “Wina, 12 poin.” Setelah itu, baru saya sadari bahwa semua tempat sampah di sekitar areal Eurovision telah mendapatkan makeover yang cerah dan penuh warna. Tampaknya, ini berhasil karena jalanan kota terlihat sangat bersih. Meski bisa jadi ini adalah nilai-nilai Austria dan para pengunjung yang menghargai kebersihan, saya masih skeptis jika lirik dari lagu Love Shine a Light yang dinyanyikan Katrina and the Waves pada tahun 1997, ditempel di tempat sampah Soho Square bisa menghalangi para pengunjung yang suka membuang sampah sembarangan.
Saya terhenti sejenak untuk menikmati suasana sebelum melanjutkan perjalanan. Sangat menarik melihat bagaimana ajang besar seperti Eurovision bisa memberikan dampak positif bagi kebersihan dan keindahan kota. Gaya hidup yang dihormati oleh para penonton dan seniman ini benar-benar terlihat dalam setiap sudut Wina, mulai dari arsitektur megah yang tersebar di seantero kota hingga museum-museum yang menyimpan kekayaan sejarah budaya.
Tidak hanya itu, Hotel Motto, tempat menginap saya, juga mencerminkan keunikan Wina dengan desain yang modern dan ramah. Dengan suasana ceria dan nyaman, tempat ini menjadi salah satu spot wajib bagi para pengunjung yang datang untuk menikmati keindahan budaya sambil menyaksikan pertunjukan luar biasa di Eurovision.
Sepertinya, perjalanan ke Wina saat ajang Eurovision bukan hanya soal lagu dan suara, tetapi juga soal merasakan atmosfer, budaya, dan semangat yang menyatukan semua orang dari berbagai belahan dunia. Kemanapun pergi, semangat Eurovision memang selalu menyala, menggema dalam setiap langkah yang diambil dan setiap nada yang dinyanyikan.

