Ketika mendengar kata oni (鬼), banyak yang langsung berpikir tentang “Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba.” Atau mungkin terlintas di benak Momotaro, sang pahlawan dari salah satu dongeng paling terkenal di Jepang. Dalam cerita tersebut, seorang anak yang lahir dari buah persik berangkat menuju sebuah pulau bernama Onigashima—yang secara harfiah berarti “Pulau Demon”—ditemani oleh seekor monyet, anjing, dan burung faisan. Mereka bersama-sama mengalahkan iblis yang mengancam desa-desa di sekitarnya. Kisah ini diwariskan turun-temurun di seluruh Jepang, dan menurut tradisi setempat, pulau tempat tinggal iblis itu mungkin masih ada di Laut Seto, tak jauh dari pantai Shikoku. Artikel ini mengajak kita untuk menjelajahi pulau yang dijuluki Pulau Demon tersebut—Megijima, sebuah tempat nyata yang masih bisa kamu kunjungi hingga sekarang.
Pulau Demon Dekat Takamatsu
Jepang terdiri dari empat pulau utama, salah satunya adalah Shikoku, yang merupakan yang terkecil dan terletak di sebelah barat Osaka. Di prefektur utaranya, Kagawa, banyak pulau kecil yang menghiasi garis pantai, dan salah satunya adalah Onigashima, atau yang lebih dikenal sebagai Megijima.
Megijima hanya berjarak 4 kilometer dari Takamatsu, ibu kota prefektur. Pada hari yang cerah, siluet khas pulau ini bisa terlihat dari tepi pantai kota, menjulang lembut dari Laut Seto. Menurut penduduk setempat, bahkan babi hutan pun berenang menyeberangi selat sempit yang memisahkan pulau ini dari daratan.
Pulau ini sangat mudah dijangkau, dengan feri yang beroperasi secara teratur—seringkali sekali setiap jam selama musim ramai.
Megijima terbentuk oleh aktivitas vulkanik. Dasar geologisnya adalah granit, yang kemudian ditutupi oleh lapisan abu vulkanik dan magma. Titik tertinggi pulau ini, Gunung Washigamine, menjulang setinggi 186,6 meter di atas permukaan laut.
Di dekat puncaknya, terdapat gua seluas sekitar 4.000 meter persegi. Gua ini ditemukan pada tahun 1930 oleh Sentaro Hashimoto, yang saat itu menjabat sebagai kepala sekolah dasar setempat. Gua ini kemudian dihubungkan dengan legenda oni dan dianggap sebagai tempat tinggal mereka.
Dari Legenda Menjadi Nyata

Menurut tradisi setempat, para nelayan pernah bercerita tentang iblis yang muncul dari laut untuk menyerang desa-desa pesisir—figura menyeramkan yang tiba-tiba muncul dan hilang dengan cepat—kepada cendekiawan dan negarawan Sugawara no Michizane, yang menjabat sebagai gubernur Provinsi Sanuki pada akhir abad kesembilan. Kisah-kisah ini diyakini membentuk versi awal legenda tersebut.
Namun kenyataannya, “iblis” ini adalah kaizoku (海賊)—para bajak laut yang menyerang komunitas pesisir, merampas barang, dan mengambil tawanan. Seiring berjalannya waktu, pertemuan ini diceritakan kembali dan ditafsir ulang, bertahap menjadi lebih mitologis.
Beberapa cerita menyebutkan bahwa kisah ini dibentuk menjadi narasi heroik tentang Wakatakehiko no Mikoto, sosok legendaris yang konon mengalahkan musuh-musuh tersebut dengan bantuan pengikut setia. Ketika cerita ini berkembang, para bajak lautnya diubah menjadi iblis, yang akhirnya muncul sebagai oni dalam dongeng Momotaro yang terkenal, di mana seorang anak berangkat untuk mengalahkan mereka dengan tiga teman hewan—seekor anjing, monyet, dan faisan.
Di dekat puncak Megijima terdapat gua alami yang besar, terbentuk oleh aktivitas vulkanik dan sudah ada jauh sebelum legenda ini. Pada tahun 1930, kepala sekolah setempat, Sentaro Hashimoto, menemukan kembali gua ini dan mengusulkan bahwa tempat ini mungkin adalah hunian yang digambarkan dalam cerita.
Sejak saat itu, pulau ini dikenal luas sebagai Onigashima—tempat di mana iblis pernah tinggal.
Di Dalam Gua Demon

Perjalanan menuju gua dimulai di Pelabuhan Megijima, di mana bus pengantar menanti penumpang feri yang datang. Meskipun bisa berjalan kaki, mendaki yang curam membuat shuttle menjadi pilihan yang lebih praktis.
Setelah berkendara melewati jalan gunung yang berkelok-kelok, pengunjung turun dan mendaki serangkaian anak tangga batu yang cukup menantang. Pintu masuknya rendah, memaksa sebagian besar orang dewasa untuk membungkuk saat masuk. Di dalam, ruang ini terbuka menjadi jaringan ruangan yang membentang sekitar 400 meter. Sekarang, pengunjung bisa menjelajahi gua ini, yang telah dikembangkan sebagian dan diberi label sesuai dengan legenda.
Setiap ruangan diberi label sesuai dengan legenda setempat, termasuk aula masuk, ruang tunggu penjaga, ruang harta, ruang pertemuan, dan ruangan yang digambarkan sebagai ruang tahanan—yang membuat gua ini seakan menjadi perpaduan antara situs bersejarah dan penceritaan kembali yang dipentaskan.
Dalam suasana temaram, mudah untuk membayangkan realitas yang lebih keras di balik mitos. Selama berabad-abad, komunitas pesisir di Laut Seto mengalami serangan bajak laut. Catatan sejarah menggambarkan serangan terhadap kapal dan desa di pesisir, perampasan barang, dan penangkapan tawanan, termasuk wanita dan anak-anak.
Untuk para penduduk desa yang melihat dari tepi pantai, para perampok yang muncul tiba-tiba dari laut dengan kulit terbakar matahari dan kotor mungkin tampak seperti iblis. Apa yang kemudian digambarkan oleh generasi selanjutnya sebagai oni mungkin tumbuh dari kenangan kekerasan yang sangat manusiawi.
Dalam kegelapan gua yang sejuk, batas antara sejarah dan legenda terasa sangat tipis.
Seni dan Pemandangan di Megijima
Megijima bukan hanya soal legenda, pulau ini juga kaya akan seni dan pemandangan indah yang memikat. Mulai dari mural yang menghiasi dinding, hingga pemandangan menakjubkan Laut Seto, Megijima menawarkan pengalaman yang tidak bisa kamu lewatkan jika berkunjung ke Jepang.

