On Location mengajak kita menelusuri beberapa film, acara televisi, dan berbagai karya favorit. Kali ini, kita bakal mengupas tuntas The Devil Wears Prada 2.
Bicara tentang sekuel dari film hits 2000an? Wow banget! Banyak yang penasaran apakah Devil Wears Prada 2 bisa mengulang kesuksesan dengan dialog sarkastik dan fashion yang spektakuler dari film pertamanya. Dalam bayangan kita, bagaimana ya bisa membawa roh film yang sudah sangat terikat dengan kota dan zaman di mana film itu dibuat? Salah satu kunci jawabannya mungkin ada di lokasi syuting, yang kali ini menjadi latar belakang aksi penuh tekanan sebagai Miranda Priestley di Runway, di tengah landscape media yang berubah drastis. (Contohnya: di tahun 2026, Miranda terpaksa terbang dengan kelas ekonomi.)
“Kami ingin mengulangi apa yang kami lakukan di film pertama, tapi dengan sentuhan lebih di lokasi-lokasi syuting,” ungkap Jess Gonchor, desainer produksi yang kembali terlibat di kedua film. “Persis seperti yang kami lakukan dengan dialog dan para pemain.”
Film sekuel ini ber-setting di zaman sekarang, mengisahkan kembalinya Andy Sachs, yang diperankan oleh Anne Hathaway, ke Runway. Namun kini, Andy bukanlah asisten naif Miranda, tetapi seorang jurnalis yang sudah mapan dan menjabat sebagai editor fitur. Dia kembali bersama sebagian besar cast asli—Meryl Streep sebagai Miranda yang tak tergoyahkan, Stanley Tucci sebagai Nigel yang setia, dan Emily Blunt sebagai Emily, yang kini berpindah dari dunia penerbitan ke retail mewah. Kemunculan karakter Benji Barnes yang kaya raya, diperankan oleh Justin Theroux, serta cameo dari Donatella Versace dan Lady Gaga, menambah bumbu keseruan film ini. Beberapa lokasi New York City ikonik pun kembali, ditambah dengan spot-spot yang menggambarkan versi kontemporer kota tersebut. Kali ini, klimaks cerita berlangsung di Milan, bukan Paris.
Di bawah ini, Gonchor membagikan beberapa tempat nyata yang dipilih untuk film ini, pengalaman menghadapi kerumunan penggemar yang ingin melihat proses syuting, dan bagaimana kru berhasil mereplikasi salah satu atraksi turis paling terkenal (dan jarang terlihat) di Italia.
Sesungguhnya, menciptakan nuansa film ini bukanlah hal yang mudah. Gonchor menambahkan, “Kami sangat menyadari betapa pentingnya lokasi. Kami perlu menghadirkan suasana yang sama seperti yang didapat di film pertama, tapi dengan cara yang lebih fresh dan moderne.” Dapat kita bayangkan betapa kerennya melihat Meryl Streep dan Anne Hathaway kembali ke layar lebar dengan segala pesonanya di lokasi-lokasi yang juga memikat hati!
Apalagi, banyak penggemar yang setia datang untuk melihat langsung proses syuting. Gonchor menceritakan betapa sulitnya melawan arus penggemar yang ingin berpetualang di dunia Runway. “Kami sering berhadapan dengan kerumunan yang antusias, dan kadang-kadang mereka tidak menyadari bahwa kami perlu fokus untuk syuting. Tetapi, saya tidak bisa menyalahkan mereka; siapa yang tidak ingin melihat Miranda dan Andy kembali beraksi?”
Ketika menyentuh lokasi di Milan, jelas film ini menunjukkan sisi glamor dari kota mode tersebut. Milan, dengan segala arsitektur dan pesonanya, menjadi latar yang sempurna untuk menggambarkan perjalanan baru Andy. “Kami menggali apa yang bisa membuat Milan menjadi lebih dari sekadar latar belakang. Kami ingin menjadikannya bagian integral dari cerita,” jelas Gonchor.
Melihat bagaimana film ini akan berkembang dari kesuksesan awalnya, tidak sabar rasanya menunggu peluncurannya. Para penggemar pasti akan tertarik untuk melihat gimana Andy dan Miranda beradaptasi dalam dunia yang berubah cepat, sambil tetap mempertahankan semangat fashion yang menjadi ciri khas mereka. Rasanya, ini bukan sekadar film, tetapi sebuah perjalanan nostalgia yang juga merefleksikan dinamika industri mode terkini. Apakah film ini akan memenuhi ekspektasi para penggemar? Kita tunggu saja peluncurannya!
